MITOS & FAKTA TERKAIT MENYUSUI & KONDISI BAYI YANG DISUSUI

34. MITOS: Bayi ASI selalu tampak tidak kenyang dan sulit tidur, sehingga perlu diberi susu formula
FAKTA: Karena ASI begitu mudah dicerna, bayi yang umumnya minum ASI lebih mudah lapar dibanding bayi yang minum susu formula. Sehingga pada minggu-minggu awal setelah kelahirannya bayi akan menyusu setiap 2-3 jam sekali atau bahkan kurang dari itu. Penelitian menujukan bahwa bayi yang diberikan susu formula tidak tidur lebih baik meskipun bayi mungkin tidur lebih lama. Hal ini disebabkan susu formula tidak dapat dicerna dengan cepat, sehingga membuat jarak antara waktu menyusu menjadi lebih panjang sehingga bayi tidur lebih lama.

35. MITOS: Kalau bayi menangis berarti ASI-nya kurang
FAKTA: bayi menangis belum tentu lapar, bisa jadi karena bosan, kepanasan atau kedinginan, atau tidak nyaman karena lembab. Orang tua harus mempelajari ciri-ciri lapar pada bayi, antara lain: bayi mulai lapar ketika dia mulai suka menggeleng-gelengkan kepalanya, mulai gelisah, dan mulai membuka buka mulutnya seakan mencari puting. Jika bayi sudah menangis, sebetulnya itu adalah senjata terakhirnya untuk memberi tahu bawah dia sudah sangat lapar.

36. MITOS: bayi yang sudah berusia di atas 3 bulan dan sudah terbiasa menyusu langsung pada ibunya tidak akan terkena bingung puting.
FAKTA: peluang terjadinya bingung puting bisa dialami oleh semua bayi pada berbagai usia dan bisa terjadi setiap saat secara tiba-tiba tanpa tanda-tanda terlebih dahulu. Sehingga agar terhindar dari bingung putting, adalah bijak jika kita menghindari penyebabnya yaitu penggunaan dot.

37. MITOS: Ada beberapa bayi yang alergi ASI
FAKTA: tidak ada yang disebut sebagai alergi ASI. Yang ada adalah bayi yang alergi makanan yang dikonsumsi ibunya pada masa menyusui, sehingga muncul reaksi alergi pada bayi. Penanganannya adalah si ibu mencari sumber alergi dan menjauhinya

38. MITOS: Bayi ASIX membutuhkan tambahan cairan air putih ketika cuaca sedang panas.
FAKTA: Komponen air di dalam ASI mencapai lebih dari 80% yang dibutuhkan oleh bayi di bawah usia 6 bulan sehingga dia tidak membutuhkan cairan lain bahkan dalam kondisi cuaca yang panas sekalipun. Ginjal bayi di bawah usia 6 bulan belum sempurna, sehingga memberi banyak air akan membuat tubuh bayi mengeluarkan natrium akibat kelebihan cairan. Ginjal bayi tidak mampu mengeluarkan air dengan cepat, sehingga menyebabkan timbunan air dalam tubuh. Air putih memang sehat, dan dibutuhkan tubuh, tetapi ginjal bayi di bawah 6 bulan belum matang untuk menerima cairan selain ASI.

39. MITOS: Jika si kakak tidak bingung puting, maka adiknya juga tidak akan bingung puting
FAKTA: bingung puting tidak terkait dengan genetik, sehingga bisa terjadi pada setiap bayi. Bisa terjadi kapan saja dan secara tiba-tiba. Jadi lebih baik menghindari dot atau empeng daripada harus menanggung resikonya

40. MITOS: Bayi ASI tidak bisa gemuk. Jika ingin bayinya gemuk, berikanlah susu formula.
FAKTA: Baik bayi ASI maupun bayi sufor bisa gemuk. Tetapi bayi ASI tidak rentan obesitas sebagaimana bayi yang mengkonsumsi susu formula karena kandungan lemak dan laktosa pada ASI dihasilkan pas sesuai kebutuhan bayi. Lagipula gemuk atau kurus bukan satu-satunya ukuran kesehatan bayi. Pastikan berat badan bayi selalu diplot di KMS atau growth chart setiap kali penimbangan untuk mengetahui perkembangan bayi.

41. MITOS: menyusui bayi harus dijadwalkan agar bayi lebih disiplin, tidak kelaparan dan tidak kekenyangan
FAKTA: menyusui bayi pada prinsipnya adalah on demand atau sesuai kehendak bayi. Tubuh bayi yang sehat memiliki mekanisme untuk menginformasikan kapan dia merasa haus atau lapar. Pada waktu-waktu tertentu seperti saat bayi mengalami growth spurt atau percepatan pertumbuhan, bayi akan menyusu lebih sering dari biasanya.

42. MITOS: Menyusui hingga anak berusia di atas dua tahun membuat anak menjadi manja dan tidak mandiri
FAKTA: Menyusui setelah anak berusia dua tahun atau lebih justru meningkatkan kedekatan anak dengan ibu dan dapat membuat anak menjadi pribadi yang mandiri karena merasa kebutuhannya fisik dan psikologisnya terpenuhi dengan baik. Manja dan tidak mandiri berkaitan erat dengan pola asuh yang diterapkan orangtua masing-masing.

MITOS & FAKTA TERKAIT MAKANAN/MINUMAN IBU MENYUSUI

23. MITOS: Busui tidak boleh makan cabai/sambal karena nanti anaknya diare
FAKTA: tidak semua bayi sensitif terhadap capsaicin, zat yang terdapat dalam cabai. Silakan makan pedas dalam jumlah yang wajar dan amati reaksi bayi setelah ibu mengkonsumsinya.

24. MITOS : Busui tidak boleh makan cabai/sambal karena biji cabe akan keluar lewat feses bayi
FAKTA: bentuk feses bayi ASI memang teksturnya terkadang seperti biji cabai ini bukan karena ibu makan pedas/sambal/cabai. Tekstur feses bayi ASIX yang normal adalah cair dengan ampas, berbentuk lembek atau krim, atau berbiji-biji.

25. MITOS: Tiap mau menyusui harus minum yang hangat-hangat agar ASI juga hangat.
FAKTA: suhu ASI selalu mengikuti suhu tubuh ibu. ASI dalam payudara umumnya bersuhu 37-38 derajat Celcius terlepas apapun yang ibu konsumsi.

26. MITOS : Busui tidak boleh minum dingin/es agar bayi tidak pilek
FAKTA: pilek bisa terjadi karena paparan virus dari lingkungan, bukan karena apa yang dikonsumsi oleh ibunya.

27. MITOS: Ibu menyusui harus banyak makan agar ASI-nya banyak.
FAKTA: kuantitas ASI tidak ditentukan oleh berapa banyak makan ibu, tetapi oleh demand/kebutuhan bayi. Ibu harus menyusui sesuai dengan kehendak bayi dan harus selalu berpikiran positif bahwa ASI-nya cukup untuk bayinya. Selama ibu menyusui, dia harus makan makanan dengan gizi berimbang agar nutrisi dalam tubuh ibu tidak tekor karena digunakan untuk produksi ASI.

28. MITOS: Ibu menyusui harus minum jamu agar ASI menjadi kental
FAKTA: ASI selalu terdiri dari dua bagian, yang encer dan kaya protein disebut foremilk, sementara yang kental dan kaya lemak disebut hindmilk, terlepas apapun yang dikonsumsi ibu.

29. MITOS: Ibu menyusui yang jarang makan sayur membuat bayinya sembelit
FAKTA: bayi ASIX tidak akan sembelit karena ASI mengandung zat pencahar/ laksatif. Frekuensi BAB yang kadang jarang pada bayi ASIX disebabkan karena ASI yang dia konsumsi terserap semua sesuai dengan kebutuhannya saat itu. Kalau ibunya makan makanan berserat seperti sayur dan buah, yang akan lancar buang air besar adalah ibunya. Namun bagaimanapun juga ibu menyusui harus makan makanan yang bernutrisi untuk menjaga kondisi tubuhnya dan menjaga asupan micronutrients (vitamin dan mineral) dalam ASI.

30. MITOS: Ibu menyusui tidak boleh makan berbau amis seperti ikan,daging,telur
FAKTA: ibu menyusui boleh mengkonsumsi sumber-sumber protein seperti ikan, daging, dan telur selama si bayi tidak menunjukkan ciri-ciri alergi.

31. MITOS: Ibu menyusui harus makan daun katuk atau pare agar ASI-nya deras
FAKTA: Produksi ASI ditentukan oleh seringnya ibu menyusui atau memerah, ditambah dengan pikiran positif ibu bahwa ASI-nya cukup. Tidak ada yang salah dengan mengkonsumsi daun katuk atau pare, karena konsumsi sayuran baik untuk ibu menyusui. Tetapi pada dasarnya ibu bisa makan apapun yang dia sukai. Kalau ibu menikmati apa yang dia makan, ASI-nya akan deras karena hati ibu merasa senang. Jadi, apapun makanan favorit atau bahkan aktivitas yang disukai ibu bisa jadi booster ASI yang baik bagi ibu yang bersangkutan.

32. MITOS: Kalau bayi sakit, maka ibu yang minum obatnya karena obatnya bisa mengalir lewat ASI
FAKTA: Kalau ibu yang sakit yang diobati si ibu, kalau bayi yang sakit yang diobati bayinya. Obat yang ibu minum akan diproses oleh organ pencernaan ibu dan diserap oleh tubuh ibu. Akhirnya yang sampai ke ASI sangat sangat sedikit dan bisa jadi tidak ada sama sekali. Meskipun demikian ada beberapa kategori obat yang tidak boleh diminum oleh busui karena bisa berpengaruh di ASI atau berbahaya bagi bayi. Lagipula jenis obat dan dosis obat untuk dewasa dan bayi itu berbeda. Misalnya, obat batuk untuk anak dengan obat batuk untuk dewasa jelas berbeda. Kalaupun ada saat dimana bayi harus minum obat yang diberikan oleh dokter, perlu diketahui bahwa dosis obat yang diberikan pada bayi sangat rendah dibandingkan dengan dosis obat orang dewasa. Biasanya obat untuk bayi diberikan dengan perhitungan miligram per berat badan bayi. Bisa dibayangkan bila obat tersebut yang minum ibunya, meskipun ada beberapa jenis obat yang bisa saja terserap dalam ASI namun tentu saja sudah tidak bisa dijadikan sebagai cara pengobatan yang sesuai ketentuan. Maka tak heran bila bayi yang sakit tidak sembuh-sembuh akibat ibu yang mengkonsumsi obat tersebut.

33. MITOS: Ibu yang mengkonsumsi obat-obatan tidak boleh menyusui
FAKTA: Tidak semua obat-obatan menghalangi ibu untuk menyusui. Konsumsi beberapa jenis obat dalam waktu tertentu masih diperbolehkan pada ibu menyusui. Namun sebaiknya penggunaan obat – obatan tertentu selama menyusui dilakukan dibawah pengawasan dokter untuk menjamin keamanannya. Saat ibu berobat karena sakit, jangan lupa sampaikan kepada dokter jika ibu sedang menyusui.

MITOS & FAKTA TERKAIT KONDISI & KUALITAS ASI

10. MITOS: Sedikitnya produksi ASI dikarenakan faktor genetik
FAKTA: Faktor genetik tidak mempengaruhi produksi ASI, ASI diproduksi semakin banyak jika ibu semakin sering menyusui atau memerah

11. MITOS: ASI yang keluar dari ibu yang sudah berusia di atas 40 tahun sudah tidak lagi baik
FAKTA: ASI yang diproduksi semua perempuan di berbagai usia kualitasnya sama baiknya

12. MITOS: ASI pagi hari itu basi jadi harus diperah dulu dan dibuang baru boleh menyusui bayi.
FAKTA: ASI kapanpun selalu dalam kondisi yang baik dan siap disajikan untuk bayi.

13. MITOS: Kalau sudah berhubungan suami istri, kualitas ASI tidak akan baik bagi bayi.
FAKTA: ibu bisa tetap berhubungan badan dengan suami. Berhubungan badan seringkali justru bisa meningkatkan kinerja hormon oksitosin dan memperlancar ASI.

14. MITOS: Kalau ibu keluar rumah ASI harus dibuang dulu sebelum menyusui lagi. Jika tidak nanti bayinya masuk angin.
FAKTA: ASI dalam payudara selalu dalam kondisi baik dan siap disajikan untuk bayi.

15. MITOS: Payudara harus digoyang-goyangkan dulu sebelum menyusui agar ASI tercampur dengan baik
FAKTA: ASI selalu terdiri dari foremilk dan hindmilk, keduanya keluar bergantian. Jika waktu menyusui cukup dan si kecil menghabiskan satu payudara hingga tertidur atau kenyang maka dia akan mendapatkan keduanya.

16. MITOS: ASI jangan sampai kena alat kelamin bayi karena bisa mengakibatkan mandul.
FAKTA: ASI tidak akan menyebabkan kemandulan. Jikapun sampai terkena alat kelamin, cukup bersihkan dengan air hingga bersih.

17. MITOS: Ibu yang sudah mendapatkan haid tidak boleh lagi menyusui karena ASI-nya menjadi amis dan tidak lagi segar.
FAKTA: ibu yang sudah haid tetap menghasilkan ASI yang berkualitas untuk bayinya. Namun penurunan produksi ASI pada ibu yang sedang haid kadangkala terjadi terkait hormonal. Penurunan ini hanya sementara dan akan kembali normal selepas masa haid.

18. MITOS: ASI yang encer berarti kualitasnya tidak baik.
FAKTA: ASI memang terdiri dari dua bagian, yang encer disebut foremilk (ASI awal) yang kaya protein dan laktosa. ASI yang lebih kental disebut hindmilk (ASI akhir) yang kaya lemak. Keduanya sama penting untuk bayi.

19. MITOS: ASIP jika disimpan lama akan berubah menjadi darah.
FAKTA: ASIP ya tetap ASI, tidak akan menjadi darah. Jangan lupa lakukan manajemen ASIP yang benar agar ASIP layak konsumsi.

20. MITOS: ASI yang pertama keluar setelah bayi lahir itu adalah ASI basi karena warnanya kuning, jadi harus dibuang.
FAKTA: ASI yang keluar segera setelah bayi dilahirkan adalah kolostrum yang manfaatnya sangat besar bagi system imunitas bayi. Proses Inisiasi Menyusu Dini (IMD) justru salah satunya bertujuan agar bayi bisa memperoleh cairan kolostrum yang sangat berharga ini.

21. MITOS : Jika ASI belum atau tidak lancar di hari-hari pertama setelah melahirkan dapat digantikan dengan susu formula.
FAKTA: Belum keluarnya ASI pada hari pertama kelahiran adalah sesuatu yang normal. Hari-hari pertama ditandai dengan keluarnya kolostrum dengan jumlah yang kecil tetapi sangat penting untuk antibodi bayi. ASI matang baru keluar sekitar hari ke-3 sejak melahirkan. Bayi sendiri secara alami akan tahan selama 3 hari sejak lahir tanpa ASI. Sayangnya, banyak ibu menjadi keburu pesimis karena ASI yang tidak langsung keluar itu. Pemberian makanan lain selain ASI meningkatkan risiko terganggunya usus bayi yang belum siap.

22. MITOS: ASI yang tidak dikeluarkan akan menjadi kanker
FAKTA: Tidak benar. Kalau ASI yang tidak dikeluarkan akan menjadi kanker, maka semua ibu menyusui yang kemudian menyapih akan kena kanker. Ketika pengeluaran ASI tidak maksimal dan banyak ASI yang tertinggal atau tidak dikeluarkan oleh bayi atau tidak diperah, maka hormon akan merangsang payudara untuk menghambat produksi ASI selanjutnya, sehingga produksi ASI dalam payudara berkurang. Apabila hal ini berlagsung berulang-ulang, maka ASI akan berhenti dihasilkan secara bertahap. Mekanisme ini sangat membantu untuk beberapa sebab, misalnya bayinya meninggal atau ketika ibu akan menyapih bayi menyusu.

Setiap negara memiliki berbagai mitos tersendiri tentang ASI dan menyusui, tidak terkecuali di Indonesia. Bahkan di Indonesia, pemahaman yang keliru tentang berbagai mitos menyusui kerap kali secara signifikan berkontribusi pada kegagalan menyusui. Masih rendahnya pemahaman tentang berbagai aspek terkait ASI dan menyusui membuat para ibu akhirnya menyerah pada susu formula.

Berikut adalah mitos-mitos terkait ASI dan menyusui yang banyak ditemukan di masyarakat Indonesia. Mitos ini dari hasil pengamatan ragam pertanyaan yang sering diajukan terkait mitos ASI dan menyusui di forum online.

MITOS DAN FAKTA TERKAIT KONDISI PAYUDARA IBU MENYUSUI

1. MITOS: Ibu yang putingnya belah tidak boleh menyusui karena jika menyusui maka bayinya akan meninggal dunia
FAKTA: Puting belah sebagaimana bentuk puting yang lain tetap dapat menyusui karena bayi tidak menyusu pada puting tetapi menyusu pada payudara dengan mengikutsertakan areola. Sejauh ini belum ada laporan ilmiah tentang adanya bayi yang meninggal setelah menyusu pada ibu yang putingnya terbelah.

2. MITOS: menyusui membuat payudara ibu menjadi kendur atau berubah bentuk
FAKTA: kehamilan serta usia ibulah yang merubah bentuk payudara, bukan aktivitas menyusui.

3. MITOS: Seorang wanita yang telah melakukan operasi pada payudara tidak dapat menyusui.
FAKTA: Banyak ibu yang melakukan operasi pada payudara dan tetap menyusui. Jika tindakan bedah tidak mempengaruhi kelenjar ASI, maka ibu tetap bisa menyusui dengan baik sebagaimana ibu-ibu lain pada umumnya yang belum pernah menjalani tindakan bedah pada payudara. Jika Ibu harus menjalani prosedur bedah payudara, konsultasikan secara lengkap ke dokter yang menanagani Ibu apakah prosedurnya tetap dapat membuat Ibu menyusui di kemudian hari.

4. MITOS: Payudara sebelah kanan adalah nasi, payudara kiri adalah lauknya. Jadi menyusu harus di kedua payudara agar lengkap makanan bagi si bayi.
Atau dalam versi lain yang sejenis juga sering dikatakan:
Payudara sebelah kanan adalah makan, payudara kiri adalah minumnya. Jadi menyusu harus di kedua payudara agar lengkap makanan bagi si bayi.
FAKTA: Isi payudara kanan dan kiri sama saja, foremilk dan hindmilk. Biarkan bayi menyusu pada satu payudara hingga “habis”, bila masih kurang baru tawarkan payudara satunya agar dia mendapatkan foremilk dan hindmilk yang seimbang.

5. MITOS: Ibu dengan ukuran payudara yang kecil tidak bisa memproduksi ASI yang cukup untuk bayinya.
FAKTA: Ukuran payudara tidak ada hubungannya dengan produksi. Apapun ukuran payudara ibu, ASI akan selalu cukup untuk bayi jika ibunya rajin menyusui/memerah dan selalu berpikir positif. Besar/kecilnya payudara pada dasarnya tergantung dari jaringan lemak di dalam payudara.

6. MITOS: Ibu yang putingnya berdarah tidak boleh menyusui.
FAKTA: Meskipun darah yang kadang masuk ke ASI bisa membuat bayi gumoh lebih banyak, atau darah dari luka di puting ibu bahkan mungkin muncul dalam buang air besar si bayi, ini bukan alasan untuk berhenti menyusui bayi. Puting susu yang sakit dan berdarah tidak lebih buruk dari puting susu yang sakit dan tidak berdarah. Jika puting luka dan sakit sekali, boleh diistirahatkan selama 1-2 hari dari proses menyusui langsung dan selama itu ASI diperah dengan tangan sesering mungkin dan ASIP diberikan dengan media selain dot. Jika luka membaik, silakan menyusui kembali. Jangan lupa oleskan ASI pada puting untuk mempercepat sembuhnya luka atau lecet. Perbaiki juga pelekatan menyusui agar puting tidak mudah lecet.

7. MITOS: Wanita dengan puting datar atau terbenam tidak bisa menyusui.
FAKTA: Bayi tidak menyusui pada puting susu, mereka menyusu pada payudara. Meskipun mungkin lebih mudah bagi bayi untuk melekat pada payudara dengan puting menonjol, puting tidak harus tetap keluar. Sebuah awal yang tepat biasanya akan mencegah masalah menyusui dan ibu dengan berbagai bentuk puting bisa menyusui dengan baik. Nipple shield atau penyambung puting tidak dianjurkan karena walau kelihatannya bisa menyelesaikan masalah, penggunaannya dapat mengakibatkan proses menyusui yang buruk karena pelekatan yang tidak tepat. Jika pelekatan tidak tepat, maka ASI yang diperoleh bayi juga tidak akan optimal.

8. MITOS: Payudara yang “lembek” adalah payudara yang tidak ada ASInya.
FAKTA: Payudara “lembek” adalah tanda pengeluaran ASI (baik menyusui dan memerah) lancar. Payudara yang keras justru menandakan pengeluaran ASI tidak lancar, apabila hal ini dibiarkan justru akan mengganggu produksi ASI bahkan bisa menyebabkan radang payudara (mastitis)

9. MITOS: Menyusui adalah perjuangan atau jihadnya seorang ibu, makanya adalah normal jika proses menyusu menimbulkan rasa sakit Dan ibu harus menahan rasa sakitnya karena menyusui agar si bayi bisa tetap mendapatkan ASI.
FAKTA: Walaupun bukan sesuatu hal yang aneh jika pada hari-hari pertama menyusui seorang ibu akan merasa sedikit kurang nyaman pada payudaranya, tapi kondisi ini seharusnya hanya berlangsung selama beberapa waktu saja, dan tidak boleh menjadi sedemikian parahnya sehingga seorang ibu menjadi takut untuk menyusui bayinya. Rasa sakit yang amat sangat pada puting ketika sedang menyusui menandakan bahwa bayi belum sempurna pelekatannya. Sakit atau lecet pada puting yang berlangsung selama lebih dari 3-4 hari tidak boleh diabaikan, harus dicari tahu penyebabnya. Perbaiki pelekatan menyusui jika payudara lecet. Jika payudara lecet terus terjadi meski pelekatan sudah diperbaiki, segera bawa bayi ke dokter yang paham tentang tongue tie untuk melihat jika ada kemungkinan si bayi mengalami tongue tie. Menyusui adalah momen yang indah dan intim antara ibu dan bayi, sehingga prosesnyapun harus bebas dari rasa sakit.

cara memijat bayi dengan benar

Cara Yang Benar Memijat Bayi

Memijat bayi sehari-hari adalah cara yang bagus untuk kesehatan bayi. Terlebih lagi, para peneliti menemukan bahwa pijat dapat mempromosikan tidur yang lebih baik, menghilangkan kolik, dan bahkan mungkin meningkatkan sistem kekebalan tubuh bayi, keterampilan motorik, dan pengembangan intelektual. Berikut adalah beberapa tips dan teknik untuk membantu Anda.

Gunakan selimut atau handuk, dan minyak pijat dalam wadah. (Uji minyak pada tempat kecil kulit bayi Anda dan menunggu sehari untuk memastikan tidak ada iritasi muncul.) Mulai saat bayi Anda dalam keadaan namun waspada tenang – Tunggu setelah makan atau saat dia mengantuk. Duduk di lantai dengan telapak kaki Anda bersama-sama, membentuk berlian dengan kaki Anda. Menggantungkan selimut di atas kaki Anda dan antara lutut Anda.

Pakaian bayi Anda ke popoknya dan menempatkan dia di atas selimut, memeluk kepalanya di kaki Anda. Mulailah dengan lembut dari kepala bayi sampai jari-jari kakinya. Jika bayi menegang, menangis, atau menjadi mudah marah, pindah ke bagian tubuh yang lain atau sekadar mengakhiri pijat untuk hari itu. Jika dia merespon dengan baik, mulai memijat lembut bagian tubuh lainnya.

Perut

1. Pegang tangan Anda sehingga tepi pinky Anda dapat bergerak seperti dayung di perut bayi Anda. Mulai di dasar tulang rusuk, usapan bawah dengan satu tangan, kemudian yang lain, dalam gerakan dayung.

2. Pijat perutnya dengan ujung jari Anda dalam lingkaran, gerakan searah jarum jam.

3. Lakukan “I Love U” Stroke: Melacak huruf I di sisi kiri bayi Anda. Kemudian melacak L terbalik, membelai seluruh perut sepanjang dasar rusuknya dari sisi kanannya ke kiri dan ke bawah. Melacak U terbalik, membelai dari rendah di sisi kanan bayi, dan sekitar pusar, dan di sisi kiri.

4. Berjalan jari Anda di sekitar pusarnya, searah jarum jam.

5. lutut dan kaki Tahan bersama-sama dan dengan lembut menekan lutut ke arah perutnya. Putar pinggul bayi sekitar beberapa kali ke kanan. (Hal ini sering membantu mengusir gas.)

6. Tempat tangan di perut horizontal dan batu tangan Anda dari sisi ke sisi beberapa kali. Catatan: Hindari memijat perut jika kabel belum sepenuhnya sembuh.

Kepala dan Wajah

1. Memeluk kepala bayi Anda di kedua tangan, pijat kulit kepala dengan ujung jari Anda, karena jika Anda keramas. (Hindari ubun-ubun, lembut tempat di atas kepala bayi.)

2. Pijat telinga antara ibu jari dan jari telunjuk.

3. Trace bentuk hati di wajah bayi Anda, membawa tangan Anda bersama-sama di dagu.

4. Tempatkan ibu jari Anda di antara alis bayi Anda, dan stroke keluar.

5. Sekali lagi dengan ibu jari, Sentuh lembut di atas kelopak mata tertutup bayi.

6. Bilas memakai tangan namun pelan dari jembatan dari hidung di atas pipi.

7. Menggunakan ujung jari Anda, pijat rahang di lingkaran kecil.

Dada

1. Tempatkan kedua tangan di dada bayi dan lalu usapan tangan anda sampai keluar dari sternum bahunya.

2. Dimulai pada sternum nya, melacak bentuk hati membawa kedua tangan sampai ke bahu, kemudian turun dan kembali bersama-sama.

3. Dalam pola silang, stroke diagonal dari satu sisi pinggul bayi Anda, dan atas bahu berlawanan, dan kembali ke pinggulnya.

Sikut

1. Dengan satu tangan, memegang pergelangan tangan bayi. Bersantai lengan bagian atas dengan menyentuhnya perlahan.

2. Pegang pergelangan tangannya dengan satu tangan dan memegang tangan Anda lainnya dalam bentuk-C sekitar lengan atas bayi; Usapan dari bahunya ke pergelangan tangannya.

3. Dengan masing-masing tangan menggenggam lengannya, tepat di atas yang lain, usapanturun dari bahu ke pergelangan tangan dengan kedua tangan berputar berlawanan arah, seperti jika Anda dengan lembut meremas-remas handuk.

4. Pijat telapak tangannya, menggerakkan jempol lebih praktis dari tumit tangannya ke jari-jarinya.

5. Usapan bawah atas tangan dari pergelangan ke ujung jari. Lembut meremas dan tarik masing-masing jari.

6. Pijat pergelangan tangannya dengan menggerakkan jari Anda di lingkaran kecil.

7. Gulung lengannya antara kedua tangan Anda.

Balik Badan

1. Tempatkan bayi di perut horizontal di depan Anda, atau membaringkannya di kaki terentang Anda. Jauhkan tangan di depannya, tidak di sisi tubuhnya.

2. Dengan kedua tangan Anda di punggung bayi, bergerak masing-masing tangan bolak-balik (menjaga mereka akan di arah yang berlawanan) dari pangkal leher ke pantatnya.

3. Pegang pantat bayi Anda dengan satu tangan dan menggunakan usapan tangan turun dari lehernya ke pantatnya.

4. Menggunakan ujung jari Anda, pijat di lingkaran kecil di salah satu sisi tulang bayi dan menaiki lainnya. Hindari menekan tulang belakang secara langsung.

5. Pijat bahunya dengan gerakan melingkar kecil.

6. Pijat pantatnya dengan gerakan melingkar besar.

7. Memegang jari-jari Anda seperti menyapu, usap bawah punggungnya.

kaki

1. Angkat salah satu kakinya dengan pergelangan kaki dan bersantai dengan ringan menekan paha atas.

2. Pegang pergelangan kaki dengan satu tangan dan memegang tangan Anda lainnya di C-bentuk, ibu jari ke bawah, sekitar paha atas bayi Anda. usapin minyak dari paha ke bawah untuk kakinya.

3. Dengan tangan Anda mencengkeram kaki di paha, tepat di atas yang lain, usapin lagi minyak turun dari pinggul ke kaki dengan kedua tangan berputar berlawanan arah, seperti jika Anda meremas-remas handuk.

4. Pada telapak kakinya, menggunakan gerakan ibu jari-over-ibu jari untuk memijat dari tumit ke jari kaki.

5. Gunakan seluruh tangan Anda untuk membelai bagian bawah kakinya dari tumit ke jari kaki.

6. Usapin bagian atas kakinya. Lembut meremas dan tarik setiap jari kaki.

7. Pijat di sekitar pergelangan kakinya menggunakan lingkaran kecil.

8. Gulung kakinya antara tangan Anda, karena jika Anda bergulir adonan.

Tips Umum
Membuat Usapan lembut tapi tegas, dan tidak geli.
Membuat jadwal Pijat harian bayi Anda.
Ikuti sinyal bayi tentang kapan harus berhenti. Pijat bisa bertahan 10 menit atau 30 menit, tergantung pada suasana hatinya.