Mommy's Diary

Bermain Bersama Bayi Usia 7-8Bulan – Pada usia ini, sang buah hati semakin membutuhkan perhatikan yang lebih besar. Biasanya anak yang berusia 7-9 bulan sudah bisa duduk tanpa bantuan sebab otot-otot lengan dan kakinya sudah mampu menopang tubuhnya. Selain itu, ia mulai belajar berdiri dan berjalan dengan berpegangan pada benda di sekelilingnya. Karenanya, Bunda perlu perhatian ekstra agar si kecil tetap aman.

Bukan hanya itu saja, kini si kecil sudah mulai mengoceh dan mengucapkan kata-kata gabungan seperti ‘baba’ atau ‘yaya’. Bayi kecil Bunda juga sudah bisa menanggapi namanya. Nah, ini adalah beberapa permainan yang bisa Bunda gunakan untuk membantu proses perkembangannya.

Sulap abrakadabra

Bermain Bersama Bayi Usia 7-8Bulan

Baringkan atau dudukkan bayi agar bisa melihat mainan di telapak tangan Bunda. Lalu sembunyikan mainan tersebut sambil bertanya, “Mainanmu dimana, ya?”.
Saat ekspresi wajahnya bertanya-tanya dan matanya mencari-cari, munculkan mainan itu di depan wajahnya sambil berkata, “Ini dia!”.
Dengan permainan ini, anak belajar koordinasi antara mata dan tangan.

Jalan-jalan ke taman

Bermain Bersama Bayi Usia 7-8Bulan

Gendong dan ajak ia jalan-jalan ke taman. Biarkan ia menyentuh dedaunan dan lain-lain. Jangan takut kotor.
Ini bermanfaat untuk melatih sensor motoriknya.

Bermain Bersama Bayi Usia 4-6Bulan – Aktivitas bermain bisa menstimulasi berbagai keterampilan dan membantu perkembangan bayi. Karenanya penting bagi Bunda untuk mengajaknya bermain sejak usia dini. Bunda tentu tidak mau sang buah hati hanya tiduran di kasur saja kan? Nah, bermacam permainan seru ini bisa Bunda lakukan bersama si kecil saat ia berumur 4-6 bulan.

Bermain di atas matras

Bermain Bersama Bayi Usia 4-6Bulan

Letakkan bayi di atas matras (selimut atau karpet jika tidak ada matras) bergambar. Biarkan ia berguling dan merasakan tekstur matras.
Jika pada matras tidak memiliki gambar, maka bunda bisa menggunakan mainan yang lembut. Jelaskan pada bayi mengenai gambar di matras atau mainan, misalnya gambar hewan.
Permainan ini melatih indera peraba anak untuk mulai merasakan sensasi dari tekstur yang berbeda.

Bermain musik

Bermain Bersama Bayi Usia 4-6Bulan

Jika Bunda tidak memiliki alat musik ataupun mainan anak yang mengeluarkan suara, maka ambil saja peralatan dapur dan pukul-pukul menggunakan sendok.
Lakukan bersama hal ini bersama anak. Permainan ini bisa membantu perkembangan pendengaran dan motorik kasarnya.
Pada usia ini, anak sudah bisa:
– Meraih dan berusaha memegang semua benda yang ada di sekitarnya dengan tangan dan membawanya ke mulut.
– Belajar memahami bahasa dengan mendengar kata-kata orang di sekitarnya. Ia juga mulai mengenali ketika namanya dipanggil dan merespons saat Bunda berbicara dengannya.
– Mulai berguling sesekali.

Bermain Bersama Bayi Usia 0-3Bulan – Bermacam permainan seru ini bisa Bunda lakukan bersama sang buah hati. Aktivitas bermain bisa menstimulasi berbagai keterampilan bayi. Karena itu, penting bagi Bunda untuk mengajaknya bermain sejak usia dini. Yuk kita bermain!

Bicara di perut

Bermain Bersama Bayi Usia 0-3Bulan

Tempelkan mulut Anda ke perut bayi sambil bicara atau bernyanyi. Keluarkan suara-suara lucu, meniru suara hewan atau kendaraan.
Variasikan tekanan dan volume suara, tapi jangan terlalu keras. Anak belajar eksplorasi sensorik dan motorik serta berinteraksi sosial.

Gantungan pita/mainan

Bermain Bersama Bayi Usia 0-3Bulan

Ikatlah beberapa buah pita dan gantungkanlah di atas bayi Anda.
Permainan ini bermanfaat untuk melatih penglihatan serta koordinasi antara mata dan tangannya.

Ci luk… ba

Bermain Bersama Bayi Usia 0-3Bulan

Bunda bersembunyi dari pandangan matanya, lalu kejutkan secara perlahan sambil tertawa.
Permainan ini melatih koordinasi mata dan tangannya.
Biasanya pada usia ini, anak sudah bisa:
– Tersenyum, mencium,dan mengeluarkan suara-suara lembut seperti “aaah” atau “uuuh”
– Mulai menyentuh benda-benda di sekitarnya
– Mulai menyerap segala hal yang ada di sekitarnya. Usia ini, bayi sudah mengerti saat Bunda menenangkannya atau bermain dengannya.

Menghindari Sembelit Pada Balita – Sembelit pada balita bisa menimbulkan dampak yang kurang baik bagi kesehatan, mulai dari perut kembung, menurunnya nafsu makan, hingga ketidaknyamanan yang membuat balita menjadi rewel. Sebagai langkah antisipasinya, berikut ini adalah beberapa tindakan yang bisa dilakukan ketika balita sembelit:

1. Meningkatkan asupan cairan untuk balita

Penambahan asupan cairan bisa membantu mengatasi sembelit yang dialami oleh balita. Selain ASI Anda bisa menambahkan menu jus buah untuk balita Anda seperti jus apel, pir atau pepaya setidaknya dua kali sehari untuk mendapatkan manfaat yang optimal.

2. Memilih menu yang sehat untuk balita

Ketika Anda mulai mengenalkan MPASI (Makanan Pendamping ASI) sebaiknya memilih jenis menu yang kaya serat dan tidak berpotensi menyebabkan sembelit pada balita, seperti bayam, aprikot, brokoli, kacang merah, kacang polong dan pir.  Beberapa makanan yang bisa menyebabkan sembelit pada balita antara lain pisang, salak dan keju.

3. Mengganti susu formula

Jika Anda curiga bahwa susu formula menjadi penyebab sembelit pada balita Anda, maka sebaiknya segera menggantinya dengan susu lain yang memiliki komposisi berbeda. Akan lebih baik jika mengkonsultasikannya dulu dengan dokter untuk memilih susu formula yang paling tepat.

4. Membiasakan balita untuk buang air besar

Dengan membiasakan balita untuk buang air besar secara teratur, hal itu akan membantu mengatasi dan mencegah terjadinya sembelit pada balita. Anda bisa melatih anak untuk ke toilet jika anak sudah merasa kenyang atau sudah banyak mengkonsumsi makanan.

5. Memberikan pijatan lembut

Anda juga bisa memberikan pijatan lembut pada balita Anda pada area sekitar perut bawah, yaitu seukuran tiga jari di bawah pusar pada sisi kiri bawah perut. Anda bisa melakukan pijatan dengan tekanan lembut secara konstan sekitar 3 menit. Pijatan ini bisa membantu pergerakan makakan di usus sehingga menimbulkan tekanan lembut pada usus dan tekanan inilah yang akan memudahkan terjadinya pengeluaran feses.

6. Menjaga kebersihan area anus

Keluhan sembelit seringkali disertai dengan munculnya luka sehingga diperlukan antisipasi agar tidak menimbulkan infeksi, yaitu dengan menjaga kebersihannya dan memberikan antiseptik atau lotion yang aman untuk balita.

7. Konsultasikan dengan dokter

Sembelit yang sering dialami oleh balita bahkan berlangsung terus menerus tentu membutuhkan penanganan yang tepat agar tidak menimbulkan efek buruk bagi kesehatan.  Segera konsultasikan dengan dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut agar mendapatkan penanganan medis yang sesuai.  Jangan sekali-kali memberikan obat pencahar kepada balita Anda tanpa mengkonsultasikannya terlebih dulu pada dokter anak.

Sembelit Pada Balita – Sembelit atau konstipasi merupakan salah satu gangguan pencernaan yang sering dialami oleh balita. Biasanya sembelit ditandai dengan kesulitan saat buang air besar.  Pada balita, keluhan sembelit bisa menimbulkan ketidaknyamanan, rewel atau menangis karena kesakitan saat buang air besar.

Beberapa gejala sembelit untuk memastikan balita mengalami sembelit, diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Frekuensi buang air besar pada balita berbeda dari biasanya, lebih jarang atau tidak buang air besar selama 3 hari atau bahkan lebih.
2. Feses yang dikeluarkan keras, kering, dan sulit untuk dikeluarkan meskipun frekuensi BAB tidak mengalami perubahan.
3. Balita mengejan dengan kuat sebagai tanda kesulita BAB, dan sering diikuti ekspresi kesakitan atau menangis dan menjerit.

Beberapa hal yang bisa menjadi penyebab sembelit pada balita antara lain adalah:

1. Transisi dari ASI ke makanan padat

Pengenalan makanan padat pada bayi bisa menjadi penyebab terjadinya sembelit. Hal ini dikarenakan sistem pencernaan pada bayi belum terbiasa untuk mencerna makanan padat.  Kondisi ini akan semakin buruk jika makanan padat yang diberikan tidak mengandung banyak serat.

2. Kekurangan cairan tubuh

Kekurangan cairan tubuh atau dehidrasi pada balita akan menyebabkan feses cenderung keras dan kering sehingga lebih sulit untuk dikeluarkan.

3. Pengaruh susu formula

Komposisi nutrisi yang terdapat dalam susu formula berbeda dengan ASI, dimana komposisi dalam susu formula cenderung lebih sulit untuk dicerna. Akibatnya, feses menjadi lebih keras dan memicu terjadinya sembelit.

4. Gangguan metabolisme

Gangguan metabolisme atau kondisi tertentu bisa menyebabkan balita mengalami sembelit, seperti misalnya gerakan usus yang tidak normal.