Cara Langsing Kilat Setelah Melahirkan – Berat badan yang bertambah adalah keluhan yang pastinya banyak dialami ibu baru. Tetapi saat ini Bunda tidak dianjurkan untuk melakukan diet ketat. Apalagi diet dengan cara tidak makan karbohidrat karena hal ini bisa mengganggu nutrisi ASI.

Sebenarnya menyusui adalah salah satu cara menurunkan berat badan secara alami. Aktivitas menyusui dapat membakar kalori hingga 500 Kalori per hari. Selain menyusui, cara lain yang bisa Bunda tempuh untuk bisa back to shape secara sehat adalah :

1. Terapkan pola makan sehat

Pastikan dalam menu makan terdapat karbohidrat, buah, sayuran, protein dari daging tanpa lemak atau ikan, dan susu rendah lemak. Porsi makan tidak terlalu banyak atau sedikit. Hindari makanan yang banyak mengandung gula dan perbanyak minum air putih. Cara ini untuk menjaga agar asupan nutrisi bayi tak terganggu namun berat badan terkontrol.

2. Perbanyak frekuensi makan dengan mengatur porsi makan

Karena memakan kalori, jangan heran jika menyusui memicu rasa lapar. Untuk mengakali lapar, atur waktu makan menjadi lima kali sehari, 3 kali makan dengan menu lengkap dan 2 kali makanan selingan. Sesekali, ganti nasi putih dengan oatmeal atau nasi merah yang kandungan seratnya lebih banyak, sehingga memberi rasa kenyang lebih lama. Konsumsi selada buah atau sayur sebagai selingan. Dengan cara itu, asupan ASI yang diberikan untuk bayi selalu cukup.

3. Lakukan olahraga secara rutin

Olahraga sudah bisa dilakukan setelah masa nifas, karena saat itu jahitan dan luka akibat melahirkan sudah sembuh. Bunda bisa melakukan pilates dan yoga yang melatih kelenturan, kekuatan, dan pernapasan, serta renang dan jalan kaki. Untuk sementara, hindari melakukan olahraga beban yang menyebabkan perut mengejan seperti body pump. Jika Bunda bersalin secara sesar, konsultasikan kepada dokter kapan dan jenis olahraga yang tepat. Yang juga penting, dengarkan “alarm” tubuh. Bila Bunda merasa pusing atau tidak fit akibat harus sering bangun karena menyusui malam hari, jangan memaksakan diri berolahraga namun tambahlah waktu istirahat.

#3. Mendengarkan semua nasihat dan membebani diri

Usai melahirkan, Bunda baru kerap mendapat nasihat dari banyak orang, mulai dari orangtua, mertua, kakak perempuan, sepupu, kakak ipar, tante, teman-teman dan seterusnya. Kendati tak diminta, mereka akan tetap memberi berbagai nasihat. Merasa tak berpengalaman, semua nasihat itu lantas Bunda telan mentah-mentah sehingga menjadi beban.

Akibatnya :
Mendengarkan berbagai nasehat dan pendapat orang lain tanpa mencerna dan mengritisinya bisa mendatangkan kebingungan, apalagi jika kemudian hari muncul rasa tak mampu menjalankannya. Pada beberapa ibu, beban di hati itu dapat berkembang menjadi depresi. Lebih-lebih jika nasihat tersebut bertentangan dengan prinsip dan kesanggupan.

Yang seharusnya dilakukan :
Boleh mendengarkan nasihat orang lain, namun utamakan pendapat dan insting keibuan yang ada. Jika bunda mengikuti nasihat semua orang, artinya bunda menerima terlalu banyak aturan hidup yang bisa saja tak sesuai dengan prinsip sendiri. Yang terbaik adalah dengarkan nasehat, tapi cerna dan tapis mana yang sesuai dengan keyakinan dan intuisi dalam mengasuh dan merawat anak. Jika berkaitan dengan kesehatan dan kondisi medis anak, dokter adalah sumber terbaik mendapatkan nasehat.

#4. Terlalu Khawatir, paranoid dan gelisah

Sudah menjadi naluri alami, menjadi orangtua baru selalu membuat ayah dan bunda khawatir dan gelisah. Melihat bayi yang kecil dan rapuh serta banyaknya fakta di luar jika bayi dapat memiliki gangguan kesehatan serius, menjadi pembenaran bagi para orangtua baru untuk selalu khawatir berlebihan.

Akibatnya :
Penyebab terbanyak kasus PPD ternyata adalah kekhawatiran berlebihan yang dialami Bunda baru. Itu karena kekhawatiran dapat menggiring Bunda untuk merasa cemas, takut hingga panik yang berdampak pada gangguan tidur, gangguan makan-minum dan lainnya yang akhirnya membuat baby blues lebih buruk.

Yang seharusnya dilakukan :
Terimalah fakta bahwa tak semua penyakit dan musibah bisa dicegah oleh orangtua. Mengasuh anak seharusnya menjadi pengalaman positif bagi orangtua baru, bukannya mendatangkan kekhawatiran dan ketakutan. Jika orangtua bisa menerima kehadiran bayi dengan lebih santai, tenang, disertai rasa berserah diri kepada Tuhan Sang Pencipta mahklukNYA, bayi juga dapat berkembang dengan baik dan sehat.
Selain itu, bayi menangis tak selalu berarti sakit atau tak bahagia. “Bayi menangis juga bukan karena pengasuhan Anda salah. Jika bayi menangis lantas ketika Anda meresponnya ia berhenti menangis, artinya Anda tak perlu khawatir,” ujar Michelle Haley, M.D., dokter anak dari Children’s Mercy Hospitals & Clinics, AS.

#5. Cuek Pada Suami

Setelah memiliki bayi, Bunda sibuk merawat bayi dari pagi hingga malam hari sehingga begitu kelelahan. Akibanya Bunda tak sempat memerhatikan suami dan melakukan hal-hal yang dulu kerap Bunda lakukan untuknya seperti berdandan, minum teh berdua atau mengobrol. Selain itu, saat ini bayi adalah prioritas utama hidup Bunda sehingga –tanpa membicarakan hal ini dengan suami- Bunda merasa suami tidak perlu menuntut macam-macam dan musti menerima kenyataan ini,

Akibatnya :
Keadaan ini jika dibiarkan berlarut-larut dapat memicu masalah pernikahan dan kerenggangan hubungan suami isteri. Pada suatu titik, perasaan bersalah karena telah mengabaikan kebutuhan pasangan bisa muncul dan menimbulkan rasa inkompeten sebagai isteri. Dalam diri Bunda muncul rasa rendah diri. Jangan sampai ini terjadi!

Yang seharusnya dilakukan :
Jangan terlalu merasa bersalah dengan ketidakmampuan diri mengatasi semua. “Bukan hal yang aneh, jika pascamemiliki bayi, ibu mengalami sedikit masalah pernikahan sekaligus stres menjadi orangtua baru. Saat ini memang masa transisi dari pasangan tanpa anak menjadi orangtua baru,” ujar John Friel, PhD. Profesor Psikiatri Klinis di School of Medicine, University of Nevada, AS.

Kendati demikian, menurut John, tetaplah fokus pada pernikahan dan anak. Cobalah mencari pengasuh atau orang lain yang dapat membantu Bunda mengasuh bayi saat melakukan “our time” dengan suami. Seringlah berdiskusi dengan pasangan tentang bayi maupun perubahan hidup keluarga, sehingga suami merasa ini isu bersama yang harus dihadapi bersama pula. Jadikan komunikasi kebiasaan positif.

#6. Tak Punya ‘Me Time’

Kesibukan bunda dalam mengurus bayi kerap membuatnya menganggap kebutuhan pribadi tak lagi penting. Bahkan tak sempat memiliki ‘me time’.

Akibatnya :
‘Me Time’ sebetulnya sangat berperan mengembalikan kesejahteraan jiwa seorang ibu. Jika tak terpenuhi, Bunda baru akan lebih mudah mengalami stres terutama menghadapi tangisan bayi.

Yang seharusnya dilakukan :
“Mengupayakan me time kendati telah menjadi seorang ibu adalah sebuah keharusan. Anda juga perlu merawat kesehatan jiwa, karena ibu yang bahagia akan menjadi orangtua yang lebih sabar merawat anak,” ujar Elizabeth Silk, psikolog dari New York City, Amerika Serikat.

Awas, Jangan Lakukan Kesalahan ini Setelah Melahirkan – Jatuh cinta setengah mati kepada bayi baru, disertai eforia menyandang predikat “ibu”, kerap membuat seorang Bunda baru siap pasang badan menjadi wonder woman yang kuat, tangguh dan rela berkorban demi bayinya. Tapi, apa musti demikian sehingga mengorbankan kesehatan jiwa-raga, mengesampingkan kebahagiaan pribadi dan menguras tabungan hingga tak bersisa?

Inilah 6 kesalahan umum yang kerap dialami Bunda baru, yang harus dikoreksi agar tak merugikan keluarga kecil bahagia Bunda.

#1. Pola Tidur Kacau

Bunda beranggapan bayi baru lahir memerlukan perhatian khusus agar kesehatannya terjaga dan kebutuhannya selalu terpenuhi. Untuk itu, Bunda bersedia standby 24jam. Bunda memang harus standby ketika bayi minta ASI 1-2 jam sekali, saat bayi terjaga di malam hari untuk ganti popok, juga saat main atau sakit. Sayangnya, ketika bayi tidur, Bunda kerap tidak ikut tidur, melainkan mengerjakan hal-hal lain seperti beres-beres rumah, menerima tamu, atau mengunggah foto-foto bayi di sosial media. Akibatnya Bunda menumpuk kekurangan jam tidur hingga rata-rata jam tidur hanya 2 jam per hari. Hal ini berlangsung terus sampai bayi berusia 3-5 bulan. Padahal pada masa nifas, tidur dan istirahat cukup yaitu 7-9 jam sehari, sangat penting agar ibu cepat pulih dan sehat kembali. Terutama jika ibu memiliki riwayat persalinan dengan komplikasi seperti persalinan macet, bersalin sesar, maupun mengalami sobekan perineum yang mendapat jahitan.

Akibatnya :
Menurut April Hirschberg, MD, dokter Spesialis Kejiwaan dari Massachusetts General Hospital, AS, kurangnya waktu tidur berhari-hari dapat menyebabkan kesehatan ibu terganggu, mulai dari mengalami sakit kepala, tekanan darah menurun, daya tahan tubuh menurun, mudah kena batuk-pilek dan diare, konsentrasi dan kesigapan menurun, mengalami rasa lelah berkepanjangan dan meningkatkan risiko PPD.

Yang seharusnya dilakukan :
Jangan mengesampingkan pola tidur pascamelahirkan dan jadikan hal itu prioritas bunda. Bayi baru lahir rata-rata memiliki pola tidur 16-20 jam sehari, jadi sebenarnya Bunda bisa “mencuri” jam tidur dengan ikut tidur ketika bayi tidur. Sempatkan tidur siang 45 menit hingga 2 jam dan tidur panjang di akhir pekan. Jika Bunda merasa tidur Bunda sering terputus-putus akibat menyusui, cobalah membuat stok ASI perah yang diberikan oleh suami atau ART kepada bayi, agar Bunda bisa tidur tenang.

#2. Membeli semua barang

Saat memiliki bayi pertama kali, banyak orangtua merasa harus membeli semua kebutuhan bayi. Tanpa pengalaman dan referensi belanja kebutuhan bayi, daftar belanja pun jadi memanjang karena prioritas yang tak jelas.

Akibatnya :
Overspending, padahal kebutuhan seorang anak bukan hanya penting dipenuhi saat ia bayi, namun berkesinambungan ketika ia bertumbuh kembang menjadi balita, lalu preschooler, dan seterusnya. – dengan kata lain, tak ada habisnya! Bukan hanya kebutuhan sehari-hari atau barang habis pakai yang harus terpenuhi, biaya pemeliharaan kesehatan serta investasi pendidikan juga perlu direncanakan. Jika Bunda kendor dalam mengontrol belanja barang bayi, dikhawatirkan hal ini akan berkembang menjadi kebiasaan yang sulit diubah. Anggaran rumah tangga yang tak terkontrol dapat pula memicu masalah dengan pasangan.

Yang seharusnya dilakukan :
Batasi pengeluaran, buat skala prioritas belanja barang keperluan bayi dan jangan segan meminta keluarga untuk melungsurkan barang–barang bayi layak pakai (serta aman!) yang berusia pendek seperti new born car seat, boks bayi, meja ganti popok, pompa ASI dan sebagainya.

Tips untuk Mengurangi Nyeri Kontraksi – Salah satu hal yang akan dihadapi oleh ibu hamil yang akan menjalani persalinan adalah kontraksi. Beberapa ibu hamil kerap mengalami apa yang disebut sebagai kontraksi palsu atau disebut pula dengan Braxton Hicks. Kasus ini adalah keadaan di mana ibu hamil akan merasakan rahimnya mengencang dan mengendur secara bergantian. Rasanya akan seperti kontraksi yang Anda rasakan ketika menstruasi. Tetapi, jika hal ini terjadi sesaat Anda akan menjalani proses persalinan, intensitas dan frekuensinya akan lebih lama dan lebih kuat dari biasanya. Kontraksi inilah yang membuat perasaan tidak nyaman, gugup, dan cemas terlebih bagi mereka yang akan melahirkan untuk pertama kalinya.

Rasa nyeri karena kontraksi hebat ini bisa dikurangi dengan tips-tips berikut ini:

1. Berendam dalam air

Membenamkan diri Anda dalam air yang hangat ketika akan menjalani persalinan terbukti cukup efektif untuk mengurangi rasa nyeri akibat kontraksi. Hal ini dikarenakan ketika Anda duduk dengan rileks dalam bathtub, otot-otot tubuh Anda akan mengendur karena hangatnya air. Jika di rumah sakit tempat Anda bersalin terdapat bathtub, Anda bisa mencoba untuk menyirami perut dengan air hangat dengan lembut menggunakan shower. Tekanan lembutnya akan memberikan efek nyaman bagi perasaan nyeri di bagian punggung bawah.

2. Ciptakan suara

Ibu hamil sering merintih atau mengeluarkan suara ketika ia tengah merasa sangat kesakitan menjelang persalinan. Rilekskan pundak dan ciptakan suara rendah nan dalam agar napas Anda lebih ringan serta agar otot-otot panggul yang menegang menjadi mengendur. Bisa juga bernyanyi, berhitung, atau mengulang kata-kata dari bahan bacaan. Hal ini bertujuan untuk mengalihkan Anda dari rasa nyeri tersebut.

3. Atur posisi tubuh

Melakukan kegiatan yang tidak melawan gravitasi bumi akan membantu mengurangi rasa nyeri Anda, contohnya dengan membuka panggul. Anda bisa duduk dengan santai menyandarkan diri pada dinding atau pada suami. Cara ini sangat populer di kalangan ibu hamil untuk mencegah adanya intervensi lain yang bisa saja terjadi. Namun biasanya dokter akan mencegah Anda melakukan gerakan yang terlalu sering karena akan riskan untuk kondisi bayi Anda.

4. Meminta dukungan dari sekeliling Anda

Banyak kasus ibu hamil yang akan melahirkan tidak ditemani oleh siapa pun hingga waktunya untuk melahirkan. Anda bisa mengajak suami, orang tua, atau kerabat perempuan untuk menemani Anda. Karena bagaimana pun juga, Anda butuh sosok untuk mendegar keluhan Anda menjelang persalinan. Petugas medis sudah biasa dengan kasus ini maka daripada itu mereka biasanya tidak menemani. Jika ibu hamil sudah merasa aman dan nyaman, ia akan menjalani proses persalinan dengan beban yang berkurang. Untuk itu, tempat persalinan dan siapa yang menemani adalah hal penting.

5. Melakukan pemijatan

Pijatan dapat mengurangi nyeri yang Anda rasakan. Cara yang paling tepat adalah mengarah ke bawah dan lakukan tekanan yang tetap dan lembut. Anda bisa meminta suami Anda untuk memijat bagian punggung dan pinggul sementara Anda bisa duduk dengan rileks sambil memeluk bantal. Selain itu, bisa juga menggunakan bola tenis. Caranya, lakukan gerakan memutar pada tulang belakang dan punggung bagian bawah. Ini akan memberikan efek rileks.
6. Melakukan afirmasi

Jika Anda paranoid terhadap sesuatu, ini akan menambah nyeri Anda. Anda bisa membisikkan diri Anda hal-hal yang positif, seperti proses persalinan adalah hal alamiah yang dialami semua wanita. Segala masalah pasti ada jalan keluarnya. Dorongan kuat yang dibangun dari dalam diri sendiri akan menyingkirkan paranoid. Jika perlu, Anda bisa menceritakan segala keluhan Anda selama itu bisa membuat Anda lega.

7. Berpikir sesuatu yang menyenangkan

Hormon oksitosin adalah hormon kehamilan yang berperan besar dalam kontraksi. Hormon ini juga muncul ketika suami memijat Anda atau ketika Anda merasa nyaman dan aman pada suatu kondisi. Ketakutan yang berlebih dapat memperlambat kinerja hormon ini. Yang perlu Anda lakukan adalah membuat lingkungan di sekitar Anda terasa lebih nyaman bagi Anda sehingga menghapalkan gerakan yoga bukanlah sebuah keharusan. Misalnya dengan memikirkan hal-hal yang menyenangkan.

Persiapan Waterbirth – Metode persalinan di dalam air sebetulnya bukan metode yang baru. Metode ini telah lama dikenal di uni soviet sekitar tahun 1960-an menyusul di Amerika Serikat pada tahun 1961. Pada prinsipnya dengan menggunakan metode persalinan di dalam air (water birth) tidak jauh berbeda dengan persalinan normal, yang membedakannya adalah dengan metode water birth anda akan melakukan persalinan di dalam air dan dapat mengurangi rasa sakit dibanding dengan menggunakan persalinan yang dilakukan di atas tempat tidur. Pada proses persalinan dengan menggunakan metode water birth, ibu hamil akan diberikan tindakan pada saat telah mengalami pembukaan ke enam. Pada saat itu ibu hamil akan dimasukan ke dalam kolam yang berisi air hangat dengan tujuan untuk membuat kulit di area kewanitaan menjadi lebih tipis dan juga membuatnya elastis.

Pada dasarnya penggunaan air hangat bertujuan untuk membuat anda nyaman dan rileks, hal ini dikarenakan air hangat dapat memicu tubuh anda untuk melepas endorphin dalam mengatur anda mengelola rasa sakit. Pada saat bayi anda lahir dokter akan membantu mengangkat kepermukaan air untuk diberikan asi untuk pertama kalinya. Meskipun untuk sebagian ibu merasakan khawatir bayi akan tersedak akan tetapi sebenarnya kondisi itu tidak akan terjadi disebabkan bayi sudah berada diluar selain itu bayi masih bernafas melalui ari-ari dan tali pusatnya sehingga tidak akan menjadi masalah setelah dilahirkan.

Bagi anda yang akan menggunakan metode persalinan di dalam air (water birth) sebaiknya mempersiapkan beberapa hal dibawah ini yang akan mendukung persalinan anda :

1. Memperhatikan kesehatan ibu hamil

Bagi anda yang akan melakukan persalinan di dalam air atau dikenal dengan (water birth) sebaiknya berkonsultasi dengan dokter secara intens. Anda dapat bertanya dengan kondisi anda menjelang persalinan sehingga dengan kemungkinan resiko kehamilan yang rendah akan membantu anda dalam melancarkan persalinan anda. Hal yang harus anda perhatikan selanjutnya adalah memeriksakan kesehatan area kewanitaan. Tidak disarankan untuk ibu hamil yang mengalami infeksi pada area kewanitaan, saluran kencing dan juga pada kulit.

2. Dukungan dari suami dan keluarga

Meskipun bukan metode yang baru akan tetapi masih jarang menggunakan metode persalinan di dalam air (water birth) di Indonesia. Sehingga membuat keyakinan dalam melakukan metode ini sangat penting selain itu dukungan dari suami sangat dibutuhkan misalnya saja ketika anda melakukan proses persalinan suami anda dapat melakukan pemijatan pada punggung anda untuk memberikan rasa nyaman dan rileks selama persalinan.

3. Berkonsultasi untuk mendapatkan penanganan persalinan (water birth) terbaik

Mendapatkan penanganan persalinan memang sangat dibutuhkan begitu juga bagi anda yang memutuskan persalinan di dalam air (water birth) sebaiknya konsultasikan keinginan anda tersebut untuk mendapatkan fasilitas terbaik dalam mendukung persalinan anda. Memperhatikan kebersihan air kolam dan kolam persalinan sangat dibutuhkan, hal ini untuk menghindari kontaminasi yang menggangu kesehatan bayi.

4. Memperhatikan kondisi kesehatan bayi yang akan dilahirkan

Meskipun pada umumnya anda telah memiliki keyakinan untuk melakukan persalinan di dalam air dan memiliki kesehatan yang baik akan tetapi jika posisi janin anda sungsang maka tidak dapat dilakukan. Sehingga penting untuk anda menyiapkan data laboratorium sebagai syarat yang mutlak dalam memperhatikan kondisi kesehatan anda dan janin selama persiapan anda dalam melakukan kelahiran di dalam air.

  • 1
  • 2