Yang Sering Terjadi Pada Bayi Baru Lahir Banyak hal yang bisa dialami bayi baru lahir. Tak mengherankan jika hal ini membuat panik orangtua. Namun sebenarnya, masalah-masalah tersebut wajar dialami bayi baru lahir, berikut ini beberapa diantaranya :

1. Kuning (Jaundice)

Bayi kadang terlihat agak kuning pada beberapa hari setelah kelahirannya. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai hal, seperti kurangnya asupan susu, golongan darah si Kecil dan Ibu berbeda yang menyebabkan hemolisis, hingga infeksi. Jika si Kecil masih tampak kuning dalam 24 jam pertama kelahiran, harus segera dibawa ke rumah sakit. Jika kuning muncul pada hari ke-2 atau lebih, sebaiknya diperiksakan dahulu ke dokter.

2. Infeksi Tali Pusar

Tali pusar si kecil harus dijaga tetap bersih dan kering hingga puput dengan sendirinya. Jika pusar si kecil terlihat merah dan mengeluarkan aroma yang tidak sedap, segera konsultasikan dengan tenaga kesehatan yang menangani si kecil, karena bisa jadi merupakan pertanda infeksi tali pusat.

3. Berat badan turun

Seringkali berat badan bayi turun di minggu-mingu pertamanya. Namun jangan cemas ya ma, karena hal ini normal. Berat badan si kecil akan berangsur naik kembali di minggu kedua, namun jika berat badan bayi tetap turun di minggu ke dua segera konsultasikan dengan tenaga kesehatan yang menangani si kecil.

4. Mata si kecil sulit dibuka

Pada beberapa bayi baru lahir terlihat kesulitan membuka matanya karena banyak kotoran mata. Hal ini bisa terjadi karena saluran air mata si kecil masaih sangat kecil dan mudah tersumbat. Yang harus mama lakukan adalah rutin membasuh mata si kecil dengan kapas steril yang dicelupkan ke air matang.

Cara Langsing Kilat Setelah Melahirkan – Berat badan yang bertambah adalah keluhan yang pastinya banyak dialami ibu baru. Tetapi saat ini Bunda tidak dianjurkan untuk melakukan diet ketat. Apalagi diet dengan cara tidak makan karbohidrat karena hal ini bisa mengganggu nutrisi ASI.

Sebenarnya menyusui adalah salah satu cara menurunkan berat badan secara alami. Aktivitas menyusui dapat membakar kalori hingga 500 Kalori per hari. Selain menyusui, cara lain yang bisa Bunda tempuh untuk bisa back to shape secara sehat adalah :

1. Terapkan pola makan sehat

Pastikan dalam menu makan terdapat karbohidrat, buah, sayuran, protein dari daging tanpa lemak atau ikan, dan susu rendah lemak. Porsi makan tidak terlalu banyak atau sedikit. Hindari makanan yang banyak mengandung gula dan perbanyak minum air putih. Cara ini untuk menjaga agar asupan nutrisi bayi tak terganggu namun berat badan terkontrol.

2. Perbanyak frekuensi makan dengan mengatur porsi makan

Karena memakan kalori, jangan heran jika menyusui memicu rasa lapar. Untuk mengakali lapar, atur waktu makan menjadi lima kali sehari, 3 kali makan dengan menu lengkap dan 2 kali makanan selingan. Sesekali, ganti nasi putih dengan oatmeal atau nasi merah yang kandungan seratnya lebih banyak, sehingga memberi rasa kenyang lebih lama. Konsumsi selada buah atau sayur sebagai selingan. Dengan cara itu, asupan ASI yang diberikan untuk bayi selalu cukup.

3. Lakukan olahraga secara rutin

Olahraga sudah bisa dilakukan setelah masa nifas, karena saat itu jahitan dan luka akibat melahirkan sudah sembuh. Bunda bisa melakukan pilates dan yoga yang melatih kelenturan, kekuatan, dan pernapasan, serta renang dan jalan kaki. Untuk sementara, hindari melakukan olahraga beban yang menyebabkan perut mengejan seperti body pump. Jika Bunda bersalin secara sesar, konsultasikan kepada dokter kapan dan jenis olahraga yang tepat. Yang juga penting, dengarkan “alarm” tubuh. Bila Bunda merasa pusing atau tidak fit akibat harus sering bangun karena menyusui malam hari, jangan memaksakan diri berolahraga namun tambahlah waktu istirahat.

#3. Mendengarkan semua nasihat dan membebani diri

Usai melahirkan, Bunda baru kerap mendapat nasihat dari banyak orang, mulai dari orangtua, mertua, kakak perempuan, sepupu, kakak ipar, tante, teman-teman dan seterusnya. Kendati tak diminta, mereka akan tetap memberi berbagai nasihat. Merasa tak berpengalaman, semua nasihat itu lantas Bunda telan mentah-mentah sehingga menjadi beban.

Akibatnya :
Mendengarkan berbagai nasehat dan pendapat orang lain tanpa mencerna dan mengritisinya bisa mendatangkan kebingungan, apalagi jika kemudian hari muncul rasa tak mampu menjalankannya. Pada beberapa ibu, beban di hati itu dapat berkembang menjadi depresi. Lebih-lebih jika nasihat tersebut bertentangan dengan prinsip dan kesanggupan.

Yang seharusnya dilakukan :
Boleh mendengarkan nasihat orang lain, namun utamakan pendapat dan insting keibuan yang ada. Jika bunda mengikuti nasihat semua orang, artinya bunda menerima terlalu banyak aturan hidup yang bisa saja tak sesuai dengan prinsip sendiri. Yang terbaik adalah dengarkan nasehat, tapi cerna dan tapis mana yang sesuai dengan keyakinan dan intuisi dalam mengasuh dan merawat anak. Jika berkaitan dengan kesehatan dan kondisi medis anak, dokter adalah sumber terbaik mendapatkan nasehat.

#4. Terlalu Khawatir, paranoid dan gelisah

Sudah menjadi naluri alami, menjadi orangtua baru selalu membuat ayah dan bunda khawatir dan gelisah. Melihat bayi yang kecil dan rapuh serta banyaknya fakta di luar jika bayi dapat memiliki gangguan kesehatan serius, menjadi pembenaran bagi para orangtua baru untuk selalu khawatir berlebihan.

Akibatnya :
Penyebab terbanyak kasus PPD ternyata adalah kekhawatiran berlebihan yang dialami Bunda baru. Itu karena kekhawatiran dapat menggiring Bunda untuk merasa cemas, takut hingga panik yang berdampak pada gangguan tidur, gangguan makan-minum dan lainnya yang akhirnya membuat baby blues lebih buruk.

Yang seharusnya dilakukan :
Terimalah fakta bahwa tak semua penyakit dan musibah bisa dicegah oleh orangtua. Mengasuh anak seharusnya menjadi pengalaman positif bagi orangtua baru, bukannya mendatangkan kekhawatiran dan ketakutan. Jika orangtua bisa menerima kehadiran bayi dengan lebih santai, tenang, disertai rasa berserah diri kepada Tuhan Sang Pencipta mahklukNYA, bayi juga dapat berkembang dengan baik dan sehat.
Selain itu, bayi menangis tak selalu berarti sakit atau tak bahagia. “Bayi menangis juga bukan karena pengasuhan Anda salah. Jika bayi menangis lantas ketika Anda meresponnya ia berhenti menangis, artinya Anda tak perlu khawatir,” ujar Michelle Haley, M.D., dokter anak dari Children’s Mercy Hospitals & Clinics, AS.

#5. Cuek Pada Suami

Setelah memiliki bayi, Bunda sibuk merawat bayi dari pagi hingga malam hari sehingga begitu kelelahan. Akibanya Bunda tak sempat memerhatikan suami dan melakukan hal-hal yang dulu kerap Bunda lakukan untuknya seperti berdandan, minum teh berdua atau mengobrol. Selain itu, saat ini bayi adalah prioritas utama hidup Bunda sehingga –tanpa membicarakan hal ini dengan suami- Bunda merasa suami tidak perlu menuntut macam-macam dan musti menerima kenyataan ini,

Akibatnya :
Keadaan ini jika dibiarkan berlarut-larut dapat memicu masalah pernikahan dan kerenggangan hubungan suami isteri. Pada suatu titik, perasaan bersalah karena telah mengabaikan kebutuhan pasangan bisa muncul dan menimbulkan rasa inkompeten sebagai isteri. Dalam diri Bunda muncul rasa rendah diri. Jangan sampai ini terjadi!

Yang seharusnya dilakukan :
Jangan terlalu merasa bersalah dengan ketidakmampuan diri mengatasi semua. “Bukan hal yang aneh, jika pascamemiliki bayi, ibu mengalami sedikit masalah pernikahan sekaligus stres menjadi orangtua baru. Saat ini memang masa transisi dari pasangan tanpa anak menjadi orangtua baru,” ujar John Friel, PhD. Profesor Psikiatri Klinis di School of Medicine, University of Nevada, AS.

Kendati demikian, menurut John, tetaplah fokus pada pernikahan dan anak. Cobalah mencari pengasuh atau orang lain yang dapat membantu Bunda mengasuh bayi saat melakukan “our time” dengan suami. Seringlah berdiskusi dengan pasangan tentang bayi maupun perubahan hidup keluarga, sehingga suami merasa ini isu bersama yang harus dihadapi bersama pula. Jadikan komunikasi kebiasaan positif.

#6. Tak Punya ‘Me Time’

Kesibukan bunda dalam mengurus bayi kerap membuatnya menganggap kebutuhan pribadi tak lagi penting. Bahkan tak sempat memiliki ‘me time’.

Akibatnya :
‘Me Time’ sebetulnya sangat berperan mengembalikan kesejahteraan jiwa seorang ibu. Jika tak terpenuhi, Bunda baru akan lebih mudah mengalami stres terutama menghadapi tangisan bayi.

Yang seharusnya dilakukan :
“Mengupayakan me time kendati telah menjadi seorang ibu adalah sebuah keharusan. Anda juga perlu merawat kesehatan jiwa, karena ibu yang bahagia akan menjadi orangtua yang lebih sabar merawat anak,” ujar Elizabeth Silk, psikolog dari New York City, Amerika Serikat.

Awas, Jangan Lakukan Kesalahan ini Setelah Melahirkan – Jatuh cinta setengah mati kepada bayi baru, disertai eforia menyandang predikat “ibu”, kerap membuat seorang Bunda baru siap pasang badan menjadi wonder woman yang kuat, tangguh dan rela berkorban demi bayinya. Tapi, apa musti demikian sehingga mengorbankan kesehatan jiwa-raga, mengesampingkan kebahagiaan pribadi dan menguras tabungan hingga tak bersisa?

Inilah 6 kesalahan umum yang kerap dialami Bunda baru, yang harus dikoreksi agar tak merugikan keluarga kecil bahagia Bunda.

#1. Pola Tidur Kacau

Bunda beranggapan bayi baru lahir memerlukan perhatian khusus agar kesehatannya terjaga dan kebutuhannya selalu terpenuhi. Untuk itu, Bunda bersedia standby 24jam. Bunda memang harus standby ketika bayi minta ASI 1-2 jam sekali, saat bayi terjaga di malam hari untuk ganti popok, juga saat main atau sakit. Sayangnya, ketika bayi tidur, Bunda kerap tidak ikut tidur, melainkan mengerjakan hal-hal lain seperti beres-beres rumah, menerima tamu, atau mengunggah foto-foto bayi di sosial media. Akibatnya Bunda menumpuk kekurangan jam tidur hingga rata-rata jam tidur hanya 2 jam per hari. Hal ini berlangsung terus sampai bayi berusia 3-5 bulan. Padahal pada masa nifas, tidur dan istirahat cukup yaitu 7-9 jam sehari, sangat penting agar ibu cepat pulih dan sehat kembali. Terutama jika ibu memiliki riwayat persalinan dengan komplikasi seperti persalinan macet, bersalin sesar, maupun mengalami sobekan perineum yang mendapat jahitan.

Akibatnya :
Menurut April Hirschberg, MD, dokter Spesialis Kejiwaan dari Massachusetts General Hospital, AS, kurangnya waktu tidur berhari-hari dapat menyebabkan kesehatan ibu terganggu, mulai dari mengalami sakit kepala, tekanan darah menurun, daya tahan tubuh menurun, mudah kena batuk-pilek dan diare, konsentrasi dan kesigapan menurun, mengalami rasa lelah berkepanjangan dan meningkatkan risiko PPD.

Yang seharusnya dilakukan :
Jangan mengesampingkan pola tidur pascamelahirkan dan jadikan hal itu prioritas bunda. Bayi baru lahir rata-rata memiliki pola tidur 16-20 jam sehari, jadi sebenarnya Bunda bisa “mencuri” jam tidur dengan ikut tidur ketika bayi tidur. Sempatkan tidur siang 45 menit hingga 2 jam dan tidur panjang di akhir pekan. Jika Bunda merasa tidur Bunda sering terputus-putus akibat menyusui, cobalah membuat stok ASI perah yang diberikan oleh suami atau ART kepada bayi, agar Bunda bisa tidur tenang.

#2. Membeli semua barang

Saat memiliki bayi pertama kali, banyak orangtua merasa harus membeli semua kebutuhan bayi. Tanpa pengalaman dan referensi belanja kebutuhan bayi, daftar belanja pun jadi memanjang karena prioritas yang tak jelas.

Akibatnya :
Overspending, padahal kebutuhan seorang anak bukan hanya penting dipenuhi saat ia bayi, namun berkesinambungan ketika ia bertumbuh kembang menjadi balita, lalu preschooler, dan seterusnya. – dengan kata lain, tak ada habisnya! Bukan hanya kebutuhan sehari-hari atau barang habis pakai yang harus terpenuhi, biaya pemeliharaan kesehatan serta investasi pendidikan juga perlu direncanakan. Jika Bunda kendor dalam mengontrol belanja barang bayi, dikhawatirkan hal ini akan berkembang menjadi kebiasaan yang sulit diubah. Anggaran rumah tangga yang tak terkontrol dapat pula memicu masalah dengan pasangan.

Yang seharusnya dilakukan :
Batasi pengeluaran, buat skala prioritas belanja barang keperluan bayi dan jangan segan meminta keluarga untuk melungsurkan barang–barang bayi layak pakai (serta aman!) yang berusia pendek seperti new born car seat, boks bayi, meja ganti popok, pompa ASI dan sebagainya.

#5. Berbicara

Bayi dari sejak lahir atau bahkan di kandungan sudah bisa mendengar dan mengerti suara orang-orang terdekatnya, terutama ibu. Maka dianjurkan untuk berbicara pada bayi atau anak sesering mungkin dengan penuh kasih sayang, walaupun anak belum mampu menjawab. Pasalnya bayi bisa mengekspresikan perasaannya dengan senyuman, gerakan bibir, berteriak sampai menangis. Menurut Dr Soedjatmiko, yang bisa dilakukan ibu atau pengasuh untuk membuat aktivitas ini menyenangkan namun informatif, adalah dengan beberapa teknik.

Pertama, bertanya dengan bahasa sederhana padanya. Misal: Adik haus ya? Kedua, memberi komentar pada perasaan anak juga dengan bahasa simpel. Contohnya: Kasihan, adik rewel kepanasan, ya? Ketiga, memberi komentar akan keadaan atau perilaku bayi. Seperti: Wah, rambutmu panjang. Empat, bercerita tentang benda-benda di sekitar bayi. Misalnya. Lihat ini bantal warnanya merah muda.

#6. Mengenalkan aroma

Pertama kali bayi mengenal ibu atau pengasuhnya bukan dari wajah maupun namanya, namun dari aromanya. Ia juga mampu mengenali aroma air susu ibu. Menurut Denise Davy, penulis yang mendapat penghargaan jurnalisme dari Canadian Institute of Research, aroma yang berbeda menstimulasi tumbuh kembang otak bayi. Karena itu apabila anak sudah diperkenalkan kepada MPASI, berilah ia waktu untuk mencium dan mempelajari aroma makanan baru tersebut. Alternatif lain? Di hari libur, ajak dirinya pergi ke taman dan membiarkannya mencium aroma udara, tanah hingga bebungaan.

Menurut Anelia, dari aroma anak mampu mengasosiasikan atau membangunkan kembali memori powerful. Misalnya saat mencium aroma popcorn, bertepatan dengan ia mendapat limpahan kasih sayang dari orang-orang terdekatnya. Otomatis, saat aroma popcorn itu kembali tercium, ingatannya akan kembali ke masa-masa indah tersebut. Menakjubkan bukan?

#7. Saat mandi

Saat mandi, anak bisa mendapat stimulasi kaya yang membantu tumbuh kembang otaknya. Pasalnya, dari aktivitas mandi, ia bisa mendapat multi stimulasi dari auditori, visual, taktil (rasa kena air panas atau rambut disampo), kognitif (diperkenalkan sabun, sampo dan fungsinya) bahkan mengasah sejak dini konsep body image sampai body awareness.

#8. Merespons

Di artikelnya Keys to Enhancing Brain Development in Young Children, Sean Brotherson, psikolog keluarga senior dari North Dakota State University, Amerika Serikat, menyatakan lingkungan yang aman, ramah dan predictable menghasilkan situasi belajar optimum dan meroketkan tumbuh kembang otak bayi. Salah satu teknik efektif adalah memberi respon kepada cues bayi yang meminta dukungan dan perhatian.

Walaupun bayi belum bisa bicara, mereka memberi sinyal dari ekspresi wajah, gerak tubuh maupun tangisan. Respon seperti apa yang membuat anak merasa didengar, nyaman dan bahkan membangkitkan semangatnya?

Jawabannya ada empat. Pertama, yang memiliki sensitivitas. Ibu dapat merasakan keresahan bayi lewat gestur, ekspresi tanpa bayi harus menangis terlebih dahulu. Kedua, timing. Daripada membuat bayi kesal, respon yang diberikan harus cepat. Ketiga, kehangatannya. Apakah respon yang diberikan tulus? Hal seperti inilah yang membuat bayi Anda belajar secara sederhana makna kata trust. Terakhir, apakah respon yang diberikan sesuai dengan harapannya.

Contohnya ketika bayi dibacakan dongeng, dan pandangannya sudah tidak fokus. Respon orangtua semestinya menutup buku itu. Jangan sampai responnya adalah pura-pura tidak ngeh dan tetap memaksakan mendongeng sampai dia harus menangis untuk membuat Anda berhenti melakukan aktivitas.

BACA JUGA :
30 Hal Penting Sebelum Bayi Lahir (Part-1)
30 Hal Penting Sebelum Bayi Lahir (Part-2)
30 Hal Penting Sebelum Bayi Lahir (Part-3)
Stimulasi untuk Otak Bayi (Part-1)

#9. Merasa relaks

Cuddling atau bercanda juga sama pentingnya dengan stimulasi lain seperti mendongeng, mengajaknya bicara atau merangsangnya mengenali benda dan lingkungan sekitar. Clyde Hertzman, direktur Human Early Learning Partnership dan Canada Research Chair in Population Health and Human Population, menyayangkan apabila bayi terus dibombardir dengan suntikan ilmu dan bahasa, semata untuk tujuan memperkaya otaknya.

“Semuanya harus seimbang. Sangat disayangkan apabila Anda menjadi terlalu berambisi untuk memberi stimulasi optimal dan momen-momen spesial itu malah tercuri dengan ketegangan atau atmosfer kompetitif, “ Ditambahkan Annelia, koneksi terbaik adalah melalui cuddling dan bercanda yang santai, tulus, dan tak mengenal perhitungan. “Hanya dengan ibu dan pengasuh relaks, anak bisa relaks. Jangan pernah menyepelekan dirinya, pasalnya ia sangat peka dengan emosi orang-orang terdekatnya, “pesannya tegas.

#10. Bermain bersama

Dr Kyle Pruett, profesor fakultas psikologi anak dari Yale University, Connecticut, Amerika Serikat di artikel Mom And Dad Are Different: The Critical Role of Fathers menulis kalau saat bermain, ayah jarang menggunakan alat bantu dan permainan sifatnya physical. Karena itu, stimulasi taktil umumnya lebih dahsyat saat bermain dengan figur pria. Kebanyakan ayah memang lebih play oriented dari bunda, dan sukses membuat suasana bermain lebih seru.

Sementara dengan bunda, permainan sifatnya lebih edukatif, menggunakan alat bantu mainan dan hati-hati. Dari bermain dengan dua gender yang berbeda, anak mendapat stimulasi optimal dan belajar konsep bermain yang seimbang. Yakni permainan yang komplit itu bisa seru dan physical, namun bisa juga edukatif dan menenangkan.
Menurut Dr Soedjatmiko, untuk memperoleh hasil optimum, 10 stimulasi di atas saat diberikan harus memenuhi 4 syarat, yakni:
– Diberikan di atmosfer menyenangkan (tidak terburu-buru dan memaksakan kehendak) dan penuh cinta.
– Dilakukan sesering mungkin dan sifatnya kontinu.
– Memberikan stimulasi juga harus dalam keadaan happy. Kalau yang memberikan stimulasi dalam kondisi nggak niat, bosan atau kesal maka besar risiko rangsang yang diberikan sifatnya emosi negatif.
– Saat memberikan stimulasi juga harus memperhatikan kondisi bayi Anda. Apakah ia dalam kondisi fit, siap maupun senang.