Setiap negara memiliki berbagai mitos tersendiri tentang ASI dan menyusui, tidak terkecuali di Indonesia. Bahkan di Indonesia, pemahaman yang keliru tentang berbagai mitos menyusui kerap kali secara signifikan berkontribusi pada kegagalan menyusui. Masih rendahnya pemahaman tentang berbagai aspek terkait ASI dan menyusui membuat para ibu akhirnya menyerah pada susu formula.

Berikut adalah mitos-mitos terkait ASI dan menyusui yang banyak ditemukan di masyarakat Indonesia. Mitos ini dari hasil pengamatan ragam pertanyaan yang sering diajukan terkait mitos ASI dan menyusui di forum online.

MITOS DAN FAKTA TERKAIT KONDISI PAYUDARA IBU MENYUSUI

1. MITOS: Ibu yang putingnya belah tidak boleh menyusui karena jika menyusui maka bayinya akan meninggal dunia
FAKTA: Puting belah sebagaimana bentuk puting yang lain tetap dapat menyusui karena bayi tidak menyusu pada puting tetapi menyusu pada payudara dengan mengikutsertakan areola. Sejauh ini belum ada laporan ilmiah tentang adanya bayi yang meninggal setelah menyusu pada ibu yang putingnya terbelah.

2. MITOS: menyusui membuat payudara ibu menjadi kendur atau berubah bentuk
FAKTA: kehamilan serta usia ibulah yang merubah bentuk payudara, bukan aktivitas menyusui.

3. MITOS: Seorang wanita yang telah melakukan operasi pada payudara tidak dapat menyusui.
FAKTA: Banyak ibu yang melakukan operasi pada payudara dan tetap menyusui. Jika tindakan bedah tidak mempengaruhi kelenjar ASI, maka ibu tetap bisa menyusui dengan baik sebagaimana ibu-ibu lain pada umumnya yang belum pernah menjalani tindakan bedah pada payudara. Jika Ibu harus menjalani prosedur bedah payudara, konsultasikan secara lengkap ke dokter yang menanagani Ibu apakah prosedurnya tetap dapat membuat Ibu menyusui di kemudian hari.

4. MITOS: Payudara sebelah kanan adalah nasi, payudara kiri adalah lauknya. Jadi menyusu harus di kedua payudara agar lengkap makanan bagi si bayi.
Atau dalam versi lain yang sejenis juga sering dikatakan:
Payudara sebelah kanan adalah makan, payudara kiri adalah minumnya. Jadi menyusu harus di kedua payudara agar lengkap makanan bagi si bayi.
FAKTA: Isi payudara kanan dan kiri sama saja, foremilk dan hindmilk. Biarkan bayi menyusu pada satu payudara hingga “habis”, bila masih kurang baru tawarkan payudara satunya agar dia mendapatkan foremilk dan hindmilk yang seimbang.

5. MITOS: Ibu dengan ukuran payudara yang kecil tidak bisa memproduksi ASI yang cukup untuk bayinya.
FAKTA: Ukuran payudara tidak ada hubungannya dengan produksi. Apapun ukuran payudara ibu, ASI akan selalu cukup untuk bayi jika ibunya rajin menyusui/memerah dan selalu berpikir positif. Besar/kecilnya payudara pada dasarnya tergantung dari jaringan lemak di dalam payudara.

6. MITOS: Ibu yang putingnya berdarah tidak boleh menyusui.
FAKTA: Meskipun darah yang kadang masuk ke ASI bisa membuat bayi gumoh lebih banyak, atau darah dari luka di puting ibu bahkan mungkin muncul dalam buang air besar si bayi, ini bukan alasan untuk berhenti menyusui bayi. Puting susu yang sakit dan berdarah tidak lebih buruk dari puting susu yang sakit dan tidak berdarah. Jika puting luka dan sakit sekali, boleh diistirahatkan selama 1-2 hari dari proses menyusui langsung dan selama itu ASI diperah dengan tangan sesering mungkin dan ASIP diberikan dengan media selain dot. Jika luka membaik, silakan menyusui kembali. Jangan lupa oleskan ASI pada puting untuk mempercepat sembuhnya luka atau lecet. Perbaiki juga pelekatan menyusui agar puting tidak mudah lecet.

7. MITOS: Wanita dengan puting datar atau terbenam tidak bisa menyusui.
FAKTA: Bayi tidak menyusui pada puting susu, mereka menyusu pada payudara. Meskipun mungkin lebih mudah bagi bayi untuk melekat pada payudara dengan puting menonjol, puting tidak harus tetap keluar. Sebuah awal yang tepat biasanya akan mencegah masalah menyusui dan ibu dengan berbagai bentuk puting bisa menyusui dengan baik. Nipple shield atau penyambung puting tidak dianjurkan karena walau kelihatannya bisa menyelesaikan masalah, penggunaannya dapat mengakibatkan proses menyusui yang buruk karena pelekatan yang tidak tepat. Jika pelekatan tidak tepat, maka ASI yang diperoleh bayi juga tidak akan optimal.

8. MITOS: Payudara yang “lembek” adalah payudara yang tidak ada ASInya.
FAKTA: Payudara “lembek” adalah tanda pengeluaran ASI (baik menyusui dan memerah) lancar. Payudara yang keras justru menandakan pengeluaran ASI tidak lancar, apabila hal ini dibiarkan justru akan mengganggu produksi ASI bahkan bisa menyebabkan radang payudara (mastitis)

9. MITOS: Menyusui adalah perjuangan atau jihadnya seorang ibu, makanya adalah normal jika proses menyusu menimbulkan rasa sakit Dan ibu harus menahan rasa sakitnya karena menyusui agar si bayi bisa tetap mendapatkan ASI.
FAKTA: Walaupun bukan sesuatu hal yang aneh jika pada hari-hari pertama menyusui seorang ibu akan merasa sedikit kurang nyaman pada payudaranya, tapi kondisi ini seharusnya hanya berlangsung selama beberapa waktu saja, dan tidak boleh menjadi sedemikian parahnya sehingga seorang ibu menjadi takut untuk menyusui bayinya. Rasa sakit yang amat sangat pada puting ketika sedang menyusui menandakan bahwa bayi belum sempurna pelekatannya. Sakit atau lecet pada puting yang berlangsung selama lebih dari 3-4 hari tidak boleh diabaikan, harus dicari tahu penyebabnya. Perbaiki pelekatan menyusui jika payudara lecet. Jika payudara lecet terus terjadi meski pelekatan sudah diperbaiki, segera bawa bayi ke dokter yang paham tentang tongue tie untuk melihat jika ada kemungkinan si bayi mengalami tongue tie. Menyusui adalah momen yang indah dan intim antara ibu dan bayi, sehingga prosesnyapun harus bebas dari rasa sakit.

Sekitar 70 % bayi berumur di bawah 4 bulan mengalami gumoh minimal 1 kali setiap harinya, dan kejadian tersebut menurun sesuai dengan bertambahnya usia hingga 8-10 persen pada umur 9-12 bulan dan 5 persen pada umur 18 bulan. Meskipun normal, gumoh yang berlebihan dapat menyebabkan berbagai komplikasi yang akan mengganggu pertumbuhan bayi.

Sangat penting mengetahui bahwa muntah atau gumoh berlebihan pada bayi Anda yang mengarah pada hal patologis. Anda tak perlu khawatir jika:
– Berat badan bertambah (dalam rentang normal)
– Bayi tampak senang
– Pertumbuhan dan perkembangan bayi normal

Sebaliknya, Anda harus segera membawa bayi Anda ke rumah sakit apabila :
– Penurunan berat badan atau tidak ada kenaikan berat badan
– Infeksi dada berulang
– Muntah disertai darah
– Bayi dehidrasi
– Gangguan pernafasan misal henti nafas, biru atau nafas pendek

Tanda awal adanya masalah dengan pemberian ASI/susu pada bayi antara lain :
1. Bayi tidak tenang/selalu rewel/gelisah sepanjang waktu
2. Bayi tidak ingin menyusu /tidak nafsu
3. Bayi selalu menangis saat atau setelah menyusu
4. Bayi muntah /gumoh secara berlebihan yang berulang dan sering.
Berikut adalah cara untuk mengurangi gumoh dan muntah pada bayi :

1. Hindari memberikan ASI/susu saat bayi berbaring. Jaga agar bayi tetap dalam posisi tegak sekitar 30 menit setelah menyusu.

2. Hindari meletakkan bayi di kursi bayi karena akan meningkatkan tekanan pada perut.

3. Hindari merangsang aktivitas yang berlebihan setelah bayi menyusu.

4. Kontrol jumlah ASI/susu yang diberikan.misal Berikan ASI /susu dengan jumlah sedikit tapi sering.

5. Sendawakan bayi segera setelah menyusu. Bahkan bayi terkadang masih membutuhkan bersendawa di antara 2 waktu menyusu.

6. Cek lubang dot yang Anda gunakan untuk memberikan ASI/susu. Jika lubang terlalu kecil akan meningkatkan udara yang masuk. Jika terlalu besar ,susu akan mengalir dengan cepat yang bisa memungkinkan bayi Anda gumoh.

7. Hindari memberikan ASI/susu ketika bayi sangat lapar, karena bayi akan tergesa-gesa saat minum sehingga akan menimbulkan udara masuk.

8. Jika menyusui, posisi bayi dimiringkan. Kepalanya lebih tinggi dari kaki sehingga membentuk sudut 45 derajat. Jadi cairan yang masuk bisa turun ke bawah.

9. Jangan mengangkat bayi saat gumoh atau muntah. Segera mengangkat bayi saat gumoh adalah berbahaya, karena muntah atau gumoh bisa turun lagi, masuk ke paru dan akhirnya malah mengganggu paru. Bisa radang paru. Sebaiknya, miringkan atau tengkurapkan anak. Biarkan saja ia muntah sampai tuntas jangan ditahan.

10. Biarkan saja jika bayi mengeluarkan gumoh dari hidungnya.
Hal ini justru lebih baik daripada cairan kembali dihirup dan masuk ke dalam paru-paru karena bisa menyebabkan radang atau infeksi. Muntah pada bayi bukan cuma keluar dari mulut, tapi juga bisa dari hidung. Hal ini terjadi karena mulut, hidung, dan tenggorokan punya saluran yang berhubungan. Pada saat muntah, ada sebagian yang keluar dari mulut dan sebagian lagi dari hidung. Mungkin karena muntahnya banyak dan tak semuanya bisa keluar dari mulut, maka cairan itu mencari jalan keluar lewat hidung.

11. Hindari bayi tersedak.
Bila si bayi tersedak dan muntahnya masuk ke saluran pernapasan alias paru-paru. ini disebut aspirasi dan berbahaya. Lebih bahaya lagi jika si bayi tersedak susu yang sudah masuk ke lambung karena sudah mengandung asam dan akan merusak paru-paru. Untuk mencegah kemungkinan tersedak, agar setiap kali bayi muntah selalu dimiringkan badannya. Akan lebih baik jika sebelum si bayi muntah (saat menunjukkan tanda-tanda akan muntah) segera dimiringkan atau ditengkurapkan atau didirikan sambil ditepuk-tepuk punggungnya.

Gumoh dan muntah sering kali terjadi hampir setiap pada bayi. Gumoh berbeda dengan muntah. Keduanya merupakan hal biasa dan tidak menandakan suatu hal yang serius yang terjadi pada bayi Anda. Hanya sebagian kecil kasus muntah bayi (muntah patologis) yang menjadi indikasi gangguan serius .

Baik gumoh dan muntah pada bayi merupakan pengeluaran isi lambung. Bedanya gumoh terjadi seperti illustrasi air yang mengalir ke bawah, bisa sedikit (seperti meludah) atau cukup banyak. Bersifat pasif dan spontan. Sedangkan muntah lebih cenderung dalam jumlah banyak dan dengan kekuatan dan atau tanpa kontraksi lambung.

Sekitar 70 % bayi berumur di bawah 4 bulan mengalami gumoh minimal 1 kali setiap harinya, dan kejadian tersebut menurun sesuai dengan bertambahnya usia hingga 8-10 persen pada umur 9-12 bulan dan 5 persen pada umur 18 bulan. Meskipun normal, Gumoh yang berlebihan dapat menyebabkan berbagai komplikasi yang akan mengganggu pertumbuhan bayi.

Penyebab gumoh pada bayi :

1. ASI atau susu yang diberikan melebihi kapasitas lambung.
Lambung yang penuh juga bisa membuat bayi gumoh. Ini terjadi karena makanan yang terdahulu belum sampai ke usus, sudah diisi makanan lagi. Akibatnya si bayi muntah. Lambung bayi punya kapasitasnya sendiri.

2. Posisi menyusui.
Sering ibu menyusui sambil tiduran dengan posisi miring sementara si bayi tidur telentang. Akibatnya, cairan tersebut tidak masuk ke saluran pencernaan, tapi ke saluran napas. Bayi pun gumoh.

3. Pemakaian bentuk dot juga bisa menyebabkan gumoh. Jika si bayi suka dot besar lalu diberi dot kecil, ia akan malas mengisap karena lama. Akibatnya susu tetap keluar dari dot dan memenuhi mulut si bayi dan lebih banyak udara yang masuk. Udara masuk ke lambung, membuat bayi muntah.

4. Klep penutup lambung belum berfungsi sempurna.
Dari mulut, susu akan masuk ke saluran pencernaan atas, baru kemudian ke lambung. di antara kedua organ tersebut terdapat klep penutup lambung. Pada bayi, klep ini biasanya belum berfungsi sempurna.

5. Fungsi pencernaan bayi dengan peristaltik (gelombang kontraksi pada dinding lambung dan usus) untuk makanan dapat masuk dari saluran pencernaan ke usus, masih belum sempurna.

6. Terlalu aktif. Misalnya pada saat bayi menggeliat atau pada saat bayi terus menerus menangis. Ini akan membuat tekanan di dalam perutnya tinggi, sehingga keluar dalam bentuk muntah atau gumoh.

Menyusui adalah aktivitas sangat penting bagi Mama untuk sang bayi. Sayang, sebagian Mama mengalami kekhawatiran saat hendak menyusui. Umumnya, kecemasan atau kekhawatiran itu disebabkan oleh stres yang dialami Mama seusai melahirkan.

Penelitian oleh Dwenda Gjerdingan MD, MS yang dilakukan di AS menyebutkan, ada 13 persen dari ibu-ibu yang menyusui mengalami stres. Hal ini disebabkan karena kekhawatiran-kekhawatiran yang muncul seputar ASI dan aktivitas yang menyertainya. Angka ini, menurut Gjerdingan bisa meningkat bila penelitiannya diperluas kepada ibu-ibu yang memang mengalami post-partum blues sehabis melahirkan.

Sebenarnya tidak ada yang perlu Mama khawatirkan. Yakinlah, Mama dapat menyusui seusai melahirkan dan pastikan Mama mengumpulkan pengetahuan lengkap seputar ASI dan aktivitasnya agar dapat memberikan ASI eksklusif sebagai hadiah bagi sang bayi.

Berikut adalah langkah menyusui bayi yang harus Mama ketahui :

1. Cuci tangan dengan sabun sebelum menyusui.
2. Bersihkan kedua puting susu dengan kapas steril yang telah dibasahi air hangat (Admin: atau bisa juga dioleskan ASI di puting susu).
3. Posisi tubuh ibu yang tepat adalah duduk atau tiduran. Ibu yang menjalani persalinan dengan operasi dan perutnya masih luka, bisa memegang bayi dengan posisi badan bayi agak ke atas dan kepalanya ke arah payudara. Khusus untuk bayi kembar dapat dilakukan dengan cara seperti memegang bola bila disusui bersamaan, di payudara kiri dan kanan.
4. Menyusui bayi secara bergantian pada payudara kiri dan kanan sampai bayi merasa kenyang. (Admin: berikan satu payudara dulu sampai terasa kosong. Bila bayi masih belum kenyang, berikan payudara satunya lagi)
5. Setiap kali berpindah dari satu payudara, selalu sendawakan bayi agar udara yang terisap bisa keluar.
6. Usai menyusui, bersihkan mulut bayi dan kedua pipinya dengan kapas steril yang telah dibasahi air hangat.
7. Bila kedua payudara masih ada sisa ASI, keluarkan dengan alat pompa ASI.

Posisi menyusui yang benar :

1. Peluk bayi dengan seluruh badannya menghadap payudara ibu. Posisinya lurus searah, dari kuping, hidung, dan badannya. Perut bayi menempel pada perut ibu atau payudara bagian bawah, sedangkan dagunya menempel pada payudara ibu.
2. Bila ibu menggendong bayi di atas bantal, pegang bayi pada belakang bahunya (bukan pada dasar kepala) dan lehernya harus sedikit teregang, kemudian ibu memegang payudara tanpa menekan puting susu dan areolanya. Pipi si bayi atau sisi mulutnya disentuh dengan puting susu untuk merangsang refleks isap bayi. Bila mulutnya terbuka, gerakkan bayi ke payudara.
3. Setelah itu, ibu mengarahkan bibir bawah bayi ke dasar areola (Areola: daerah gelap di sekitar puting payudara, yang dapat melebar atau lebih gelap selama kehamilan), lalu masukkan puting susu ke atas mulut sehingga puting akan menyentuh dan merangsang langit-langit.
4. Jika posisi mulut bayi dengan puting susu sudah benar, posisi tubuh ibu saat memberi ASI bisa lebih bervariasi. Yang paling tepat adalah posisi duduk dan tidur. Namun bila ASI memancar deras karena pengaruh gravitasi bumi, sebaiknya ambil posisi tidur telentang dengan posisi bayi di atas badan ibu. Dengan demikian ASI ditarik oleh gravitasi bumi hingga ia tidak keluar memancar.

Posisi menyusui yang salah :

1. Jika posisi menyusui salah, areola tidak akan masuk ke dalam mulut bayi atau hanya di bibir bawah bayi. Akibatnya, bayi mengisap susu sebentar-sebentar atau malah menolak menyusu karena ia tidak mendapatkan ASI. Kalau sudah begitu, bayi gampang rewel karena tidak kenyang, bobotnya pun takkan bertambah. Bagi si ibu, posisi yang salah membuat putingnya jadi lecet dan tegang yang akhirnya memengaruhi produksi ASI.
2. Posisi yang salah ditandai dengan mulut dan dagu bayi tidak menempel pada payudara ibu atau terpisah, juga perut bayi tidak menempel sehingga lehernya berputar.
3. Salah satu cara menilai posisi yang salah adalah bila saat menyusu terdengar suara si kecil seperti mengecap.