Sembelit Pada Balita – Sembelit atau konstipasi merupakan salah satu gangguan pencernaan yang sering dialami oleh balita. Biasanya sembelit ditandai dengan kesulitan saat buang air besar.  Pada balita, keluhan sembelit bisa menimbulkan ketidaknyamanan, rewel atau menangis karena kesakitan saat buang air besar.

Beberapa gejala sembelit untuk memastikan balita mengalami sembelit, diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Frekuensi buang air besar pada balita berbeda dari biasanya, lebih jarang atau tidak buang air besar selama 3 hari atau bahkan lebih.
2. Feses yang dikeluarkan keras, kering, dan sulit untuk dikeluarkan meskipun frekuensi BAB tidak mengalami perubahan.
3. Balita mengejan dengan kuat sebagai tanda kesulita BAB, dan sering diikuti ekspresi kesakitan atau menangis dan menjerit.

Beberapa hal yang bisa menjadi penyebab sembelit pada balita antara lain adalah:

1. Transisi dari ASI ke makanan padat

Pengenalan makanan padat pada bayi bisa menjadi penyebab terjadinya sembelit. Hal ini dikarenakan sistem pencernaan pada bayi belum terbiasa untuk mencerna makanan padat.  Kondisi ini akan semakin buruk jika makanan padat yang diberikan tidak mengandung banyak serat.

2. Kekurangan cairan tubuh

Kekurangan cairan tubuh atau dehidrasi pada balita akan menyebabkan feses cenderung keras dan kering sehingga lebih sulit untuk dikeluarkan.

3. Pengaruh susu formula

Komposisi nutrisi yang terdapat dalam susu formula berbeda dengan ASI, dimana komposisi dalam susu formula cenderung lebih sulit untuk dicerna. Akibatnya, feses menjadi lebih keras dan memicu terjadinya sembelit.

4. Gangguan metabolisme

Gangguan metabolisme atau kondisi tertentu bisa menyebabkan balita mengalami sembelit, seperti misalnya gerakan usus yang tidak normal.

Meredakan Sakit Batuk dan Pilek Pada Anak dan Balita – Bayi rentan mengalami beragam penyakit termasuk pilek karena masih belum sempurnanya sistem daya tahan tubuh. Virus flu juga dapat menyerang bayi, yang biasanya ditandai dengan batuk, bersin, pilek dan rasa tidak nyaman pada tubuh hingga membuat bayi rewel sepanjang hari. Pilek ditandai dengan keluarnya cairan jernih dari hidung yang dapat berubah kekuningan atau kehijauan setelah satu minggu. Kemungkinan disertai batuk atau sedikit demam.

Pilek yang tidak mengganggu pola makan bayi atau aktivitas bayi sebenarnya tidak memerlukan tindakan khusus. Tetapi jika bayi demam, maka konsultasikan dengan dokter mengenai kemungkinan memberikan parasetamol atau ibuprofen.

Jangan pernah memberikan aspirin pada bayi dan hindari penggunaan obat-obat bebas pada anak di bawah usia 6 tahun untuk menghindari terjadinya efek sampingnya yang berbahaya. Hindari juga obat-obatan herbal seperti ephedra atau efedrin, yang biasa digunakan untuk meredakan hidung tersumbat karena memiliki risiko efek samping lebih besar daripada manfaatnya. Sebaiknya obat-obatan yang diberikan selalu melalui pengawasan dokter.

Jadi bagaimana menangani pilek pada bayi dengan tepat? Berikut adalah cara alami mengatasi flu yang disarankan untuk anak.

1. Konsumsi makanan tinggi protein selama sakit karena protein untuk daya tahan tubuh

Kunci kesembuhan penyakit batuk pilek adalah imunitas tubuh. Umumnya batuk pilek yang disebabkan oleh virus dapat sembuh dengan sendirinya berkat sistem imun yang baik. Menurut Prof. Dr. dr. Purwantyastuti, SpF(K), dosen dan peneliti di Departemen Farmakologi & Terapeutik, FKUI, Jakarta, untuk membuat sistem imun yang baik, tubuh memerlukan protein. Jadi pastikan si kecil mengonsumsi makanan tinggi protein seperti telur, ayam, ikan dan susu selama sakit.

2. Konsumsi kultur Lactobacillus aktif agar terhindar dari pilek

Bakteri baik yang ada di makanan seperti yogurt dan kefir, dapat membantu meningkatkan daya tahan tubuh anak-anak dan mencegah berbagai penyakit infeksi pernapasan, seperti batuk dan pilek. Penelitian yang dilakukan pada anak usia 3-5 tahun menunjukkan, anak yang mengonsumsi kultur Lactobacillus aktif setiap hari selama 6 bulan selama musim dingin cenderung terhindar dari pilek.

3. Tidur

Istirahat sangat berhubungan dengan sistem imunitas tubuh. Hal ini dibuktikan dengan sebuah penelitian yang menunjukkan bahwa orang kurang tidur akan lebih mudah terkena pilek. Jadi jangan ragu untuk meliburkan anak untuk sementara dari berbagai aktivitasnya, termasuk sekolah, saat ia sakit. “Istirahat cukup dan minum banyak cairan,” begitulah saran Vandana Bhide, M.D., dokter anak di Saint Augustine, Florida.

4. Garam untuk membantu mengeluarkan lendir dan melegakan pernapasan

Garam memiliki khasiat anti-inflamasi yang dapat membantu mengeluarkan lendir dan melegakan pernapasan, serta meredakan batuk dan radang tenggorokan. Untuk hidung tersumbat, atasi dengan meneteskan larutan garam fisiologis yang bisa dibeli di apotek dan toko obat.

Anda juga bisa membuat sendiri larutan garam dengan cara melarutkan ½ – 1 sendok teh garam ke dalam setengah liter air hangat. Teteskan dengan bantuan pipet. Kemudian untuk mengatasi sakit tenggorokan atau batuk, ajarkan si kecil untuk berkumur dengan larutan air garam hangat.

5. Gunakan alat pelembab udara untuk membantu melegakan saluran napasnya

Anda memerlukan humidifier atau alat pelembab udara untuk membantu melegakan saluran napasnya. Pastikan Anda menjaga alat pelembab udara tetap bersih dan jauh dari jangkauan anak-anak. Nyalakan alat pelembab udara di kamar tidur anak saat ia tidur atau beristirahat.

6. Madu untuk meredakan batuk

Madu lebih efektif untuk meredakan batuk jika diberikan pada malam hari menjelang tidur dibandingkan sirup obat batuk rasa madu. Madu juga membantu anak tidur lebih nyenyak. Demikian hasil penelitian yang dimuat dalam Archives of Pediatric and Adolescent Medicine.

Dosis pemberian madu sama seperti obat batuk OTC, yaitu ½ sendok teh untuk usia 1-5 tahun, 1 sendok teh untuk usia 6-11 tahun, serta 2 sendok teh untuk usia 12 tahun ke atas. Tetapi madu tidak disarankan untuk bayi di bawah 1 tahun, karena berisiko menyebabkan botulisme (sejenis keracunan makanan).

7. Mandi dengan air hangat dapat meredakan pilek dan demam

Mandi dengan menggunakan air hangat dapat merelaksasi tubuh dengan nyaman. Manfaat yang sama akan dapat dirasakan pada gejala dari pilek. Uap pada air hangat juga dapat membantu melegakan pernapasan dan meredakan hidung tersumbat.

8. Sup ayam dapat membantu meredakan gejala flu seperti nyeri, lemas, hidung tersumbat dan demam

Cairan hangat dapat membantu mengurangi gejala hidung tersumbat. Penelitian telah menunjukkan bahwa sup ayam dapat membantu meredakan gejala flu seperti nyeri, lemas, hidung tersumbat dan demam.

9. ASI eksklusif untuk mencegah dehidrasi

Rasa sakit pada tenggorokan dapat memburuk jika bayi mengalami dehidrasi. Jadi pastikan bahwa bayi tidak kehausan dan berikan ASI eksklusif yang ramah bagi tenggorokan. Jika bayi telah berusia lebih dari 2 tahun, pastikan dirinya cukup minum air putih.

Persiapan Menjadi Ibu – Tidak mudah untuk menjadi seorang ibu, apalagi jika baru pertama kali. Setelah bayi terlahir, tugas seorang ibu akan semakin repot karena harus mengurusi bayi, mengurusi suami, pekerjaan rumah dan masih banyak lagi. Hal itu tidak bisa dipelajari secara instan, melainkan perlu persiapan sejak dini supaya nantinya tidak terlalu repot ketika si kecil lahir. Lalu hal-hal apa sajakah yang perlu dipersiapkan? Berikut ini adalah hal-hal yang harus dipersiapkan untuk anda yang baru pertama kali menjadi seorang ibu.

1. Persiapan Mental

Hal yang pertama harus dipersiapkan ketika pertama menjadi seorang ibu adalah persiapan mental. Kenapa harus menata mental? Ada banyak hal yang bisa terjadi setelah melalui proses persalinan, ibu akan menghadapi banyak hal seperti mengurus bayi, memulihkan stamina setelah melahirkan, jadwal aktifitas setiap hari yang berubah dan masih banyak lagi. Hal-hal seperti itulah yang bisa membuat ibu merasa stres dan jika ibu merasa stres maka tentunya tidak akan bisa memberikan yang terbaik untuk si kecil karena ASI tidak bisa keluar. Karenanya penataan mental menjadi sangat penting bagi perempuan yang baru menjadi ibu.

2. Belajar mengurus bayi

Sang ibu harus tahu bahwa mengurus bayi itu bukan perkara mudah. Secara kasat mata memang mengurus bayi terlihat sangat mudah, tetapi jika dipraktekan tidak semudah seperti yang dilihat. Ibu harus benar-benar tahu bagaimana cara merawat bayi yang benar, memandikan bayi yang baik, merawat kulitnya, menyusui bayi dengan benar dan masih banyak lagi yang lain. Untuk hal itu, ibu mengikuti kelas yang diadakan di rumah sakit atau bisa belajar pada orang tua yang dulu pernah merawat anda.

3. Menjalin komunikasi dengan suami

Penting bagi ibu baru untuk menjaga komunikasi dengan suami karena ibu akan sering meminta bantuan suami paska persalinan nanti. Ibu harus melakukan diskusi kepada suami karena dalam merawat bayi harus dilakukan bersama-sama. Jadi, tidak hanya ibu saja yang merawat bayinya.

Tips Menidurkan Bayi  – Pada umumnya para orang tua menidurkan bayi dengan menggendong atau mengayun-ayun hingga tertidur. Cara tersebut memang sangat efektif karena kebanyakan bayi akan langsung terlelep ketika digendong sambil diayun-ayun. Tetapi, cara menidurkan tersebut bisa membuat bayi mengalami ketergantungan hingga besar nanti. Selain itu, menidurkan bayi dengan cara digendong juga bisa menguras tenaga para bunda, sehingga pekerjaan rumah sedikit tertinggalkan.

Lalu bagaimana cara menidurkan bayi dengan tanpa digendong dengan cepat? Berikut ini ada tips menidurkan bayi tanpa digendong.

1. Menggunakan ayunan

Bagi bunda yang ingin mengatasi permasalahan dalam menidurkan bayi, maka bunda bisa menidurkan bayi atau si kecil dengan cara lain seperti mengayun-ayunkan bayi dalam ayunan hingga tertidur.

Cara ini memang relatif sulit membuat si kecil dapat tidur dengan cepat dan pulas, tetapi jika bunda membiasakannya maka si kecil akan terbiasa tidur tanpa digendong.

2. Ajaklah bayi tidur diranjang

Biasakanlah untuk mengajaknya tiduran di ranjang. Temanilah tidur si kecil dengan memberikan ASI sampai dia terlelap. Setelah si kecil pulas tertidur, barulah lepas ASI secara pelan-pelan dari mulutnya. Betulkan posisi tidurnya supaya sang buah hati merasa nyaman dan tidak cepat terbangun.

Dehidrasi Pada Bayi – Bisakah kita menilai bayi cukup minum ASI atau susu formula melalui warna urine? Dikatakan oleh dr. Patria, kecukupan ASI atau susu formula pada bayi biasanya dinilai dari segi klinis. “Bila bayi cukup ASI atau susu formula, maka bayi tersebut akan kenyang yang ditandai dengan bayi tidak rewel, aktif, tidur nyenyak serta terdapat kenaikan berat badan,” ulasnya.

Walau begitu, Moms bisa juga kok menilai apakah si kecil cukup minum atau tidak dari frekuensi buang airnya. “Frekuensi buang air kecil pada bayi secara tidak langsung dapat juga untuk menilai kecukupan asupan ASI atau susu formula. Bila bayi cukup minum maka akan BAK 3 – 4 kali sehari atau bahkan sampai 8 kali sehari. Bila bayi kurang minum atau dehidrasi, maka biasanya frekuensi BAK akan berkurang atau jumlah urine sedikit, sehingga warna urine akan terlihat kuning pekat,” dr. Patria menjelaskan panjang lebar.

Hmm, dengan memerhatikan frekuensi pipis si kecil dan warna urine-nya, Moms bisa mengukur apakah si kecil cukup minum atau tidak dan bisa ditindaklanjuti. Kalau begitu, jangan remehkan warna urine si kecil ya, Moms!
Bayi Jarang Pipis

Dalam sehari, normalnya bayi buang air kecil sekitar 3 – 4 kali. Jika lebih dari jumlah itu pun oke-oke saja, kecuali bila pipisnya sangat sering (lebih dari 10 kali/hari) atau jarang sama sekali. “Tapi selama tidak ada tanda-tanda dehidrasi atau bayi menjadi lesu dan rewel, tak perlu terlalu mempermasalahkannya,” hibur dr. Patria.

Namun waspadai bila frekuensi BAK bayi jarang/menjadi jarang. “Misalnya, satu hari hanya sekali padahal biasanya biasanya 4 kali, atau sejak lahir si kecil memang jarang pipis padahal asupan cairannya mencukupi,” lanjutnya.

Nah, ada beberapa penyebab frekuensi BAK yang jarang, yaitu:

1. Bayi mengalami kekurangan cairan. Ini bisa terjadi karena ibu yang menyusui kurang banyak minum atau bayi sedang mengalami muntah-muntah atau berkeringat berlebihan. Kondisi seperti ini dapat diatasi dengan banyak memberi asupan cairan pada bayi. “Pada ibu menyusui, misalnya, musti banyak minum. Namun untuk kasus bayi muntah-muntah, sebaiknya bayi segera dibawa ke dokter untuk mencari penyebabnya dan mencegahnya dari dehidrasi,” dr. Patria memberi saran.

2. Pada bayi laki-laki, coba perhatikan ujung kulupnya apakah terlihat kecil atau tidak. Bila ya, bisa jadi ia mengalami phymosis (ujung kulup kecil) sehingga menyebabkannya jarang BAK. Sebagai solusi, biasanya dokter akan melakukan pembesaran dengan cara sunat. Kondisi ini perlu diatasi segera karena jika dibiarkan bisa menimbulkan infeksi pada saluran kencing bayi.

3. Sukar pipis pada bayi perempuan bisa disebabkan karena terjadi infeksi pada organ intimnya meski bisa juga BAK-nya justru jadi lebih sering. Sebagai pecegahan, sehabis BAK, lubang kencing dan daerah sekitarnya musti langsung dibersihkan.
Sisa air seni bisa mengendap di lipatan-lipatan sekitar kelaminnya dan menimbulkan infeksi. Perhatikan juga teknik menceboki. Jangan menceboki dari arah belakang ke depan namun dari depan kebelakang. Ini dimaksudkan agar kotoran dari anus tidak terbawa ke vagina.