Mitos Pemberian MPASI – Banyak sekali mitos yang sering kita dengar tentang pemberian MPASI untuk si kecil yang belum tentu kebenarannya. Berikut ini beberapa mitos yang tidak benar tentang pemberian MPASI beserta faktanya :

# Mitos 1
Jika bayi sudah terlihat menginginkan makanan, maka boleh diberi makanan walaupun belum berumur 6 bulan.
Faktanya : Menurut para ahli sebelum usia 6 bulan pencernaan bayi belum siap untuk mencerna makanan sehingga dapat mengakibatkan resiko seperti sembelit ataupun alergi makanan.

# Mitos 2
Jika saat makan, si kecil menyembur-nyemburkan makanannya, tandanya ia tidak suka atau makanannya tidak enak.
Faktanya : Bayi yang baru belajar makanan mempunyai reflek akibat benda asing masuk ke mulutnya atau mungkin si kecil sudah merasa kenyang.

# Mitos 3
Apabila bayi tidak suka MPASI cukup dengan asi.
Faktanya : Setelah berusia enam bulan, ASI tidak lagi dapat mencukupi 100% kebutuhan gizi dan nutrisi si kecil. Oleh karena itu pemberian MPASI sangat penting untuk membantu perkembangan terutama perkembangan pencernaan dan membentuk pola makan si kecil.

# Mitos 4
Apabila si kecil sudah tumbuh gigi sudah boleh makan
Faktanya : Tumbuhnya gigi bukan menjadi tolak ukur dalam memberikan si kecil MPASI. Si kecil harus sudah berusia 6bulan dan tentunya tekstur makanan dibuat bertahap dari halus hingga ke padat.

# Mitos 5
Bagi bayi yang telah senang memasukan jari tangan ke dalam mulutnya
berarti telah siap mencerna makanan.
Faktanya : Setiap bayi mengalami fase oral sehingga memasukan benda asing atau jari tangan ke dalam mulutnya akan dialami oleh bayi dan bukan tanda memerlukan makanan pendamping asi.

Yang Sering Terjadi Pada Bayi Baru Lahir Banyak hal yang bisa dialami bayi baru lahir. Tak mengherankan jika hal ini membuat panik orangtua. Namun sebenarnya, masalah-masalah tersebut wajar dialami bayi baru lahir, berikut ini beberapa diantaranya :

1. Kuning (Jaundice)

Bayi kadang terlihat agak kuning pada beberapa hari setelah kelahirannya. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai hal, seperti kurangnya asupan susu, golongan darah si Kecil dan Ibu berbeda yang menyebabkan hemolisis, hingga infeksi. Jika si Kecil masih tampak kuning dalam 24 jam pertama kelahiran, harus segera dibawa ke rumah sakit. Jika kuning muncul pada hari ke-2 atau lebih, sebaiknya diperiksakan dahulu ke dokter.

2. Infeksi Tali Pusar

Tali pusar si kecil harus dijaga tetap bersih dan kering hingga puput dengan sendirinya. Jika pusar si kecil terlihat merah dan mengeluarkan aroma yang tidak sedap, segera konsultasikan dengan tenaga kesehatan yang menangani si kecil, karena bisa jadi merupakan pertanda infeksi tali pusat.

3. Berat badan turun

Seringkali berat badan bayi turun di minggu-mingu pertamanya. Namun jangan cemas ya ma, karena hal ini normal. Berat badan si kecil akan berangsur naik kembali di minggu kedua, namun jika berat badan bayi tetap turun di minggu ke dua segera konsultasikan dengan tenaga kesehatan yang menangani si kecil.

4. Mata si kecil sulit dibuka

Pada beberapa bayi baru lahir terlihat kesulitan membuka matanya karena banyak kotoran mata. Hal ini bisa terjadi karena saluran air mata si kecil masaih sangat kecil dan mudah tersumbat. Yang harus mama lakukan adalah rutin membasuh mata si kecil dengan kapas steril yang dicelupkan ke air matang.

#5. Berbicara

Bayi dari sejak lahir atau bahkan di kandungan sudah bisa mendengar dan mengerti suara orang-orang terdekatnya, terutama ibu. Maka dianjurkan untuk berbicara pada bayi atau anak sesering mungkin dengan penuh kasih sayang, walaupun anak belum mampu menjawab. Pasalnya bayi bisa mengekspresikan perasaannya dengan senyuman, gerakan bibir, berteriak sampai menangis. Menurut Dr Soedjatmiko, yang bisa dilakukan ibu atau pengasuh untuk membuat aktivitas ini menyenangkan namun informatif, adalah dengan beberapa teknik.

Pertama, bertanya dengan bahasa sederhana padanya. Misal: Adik haus ya? Kedua, memberi komentar pada perasaan anak juga dengan bahasa simpel. Contohnya: Kasihan, adik rewel kepanasan, ya? Ketiga, memberi komentar akan keadaan atau perilaku bayi. Seperti: Wah, rambutmu panjang. Empat, bercerita tentang benda-benda di sekitar bayi. Misalnya. Lihat ini bantal warnanya merah muda.

#6. Mengenalkan aroma

Pertama kali bayi mengenal ibu atau pengasuhnya bukan dari wajah maupun namanya, namun dari aromanya. Ia juga mampu mengenali aroma air susu ibu. Menurut Denise Davy, penulis yang mendapat penghargaan jurnalisme dari Canadian Institute of Research, aroma yang berbeda menstimulasi tumbuh kembang otak bayi. Karena itu apabila anak sudah diperkenalkan kepada MPASI, berilah ia waktu untuk mencium dan mempelajari aroma makanan baru tersebut. Alternatif lain? Di hari libur, ajak dirinya pergi ke taman dan membiarkannya mencium aroma udara, tanah hingga bebungaan.

Menurut Anelia, dari aroma anak mampu mengasosiasikan atau membangunkan kembali memori powerful. Misalnya saat mencium aroma popcorn, bertepatan dengan ia mendapat limpahan kasih sayang dari orang-orang terdekatnya. Otomatis, saat aroma popcorn itu kembali tercium, ingatannya akan kembali ke masa-masa indah tersebut. Menakjubkan bukan?

#7. Saat mandi

Saat mandi, anak bisa mendapat stimulasi kaya yang membantu tumbuh kembang otaknya. Pasalnya, dari aktivitas mandi, ia bisa mendapat multi stimulasi dari auditori, visual, taktil (rasa kena air panas atau rambut disampo), kognitif (diperkenalkan sabun, sampo dan fungsinya) bahkan mengasah sejak dini konsep body image sampai body awareness.

#8. Merespons

Di artikelnya Keys to Enhancing Brain Development in Young Children, Sean Brotherson, psikolog keluarga senior dari North Dakota State University, Amerika Serikat, menyatakan lingkungan yang aman, ramah dan predictable menghasilkan situasi belajar optimum dan meroketkan tumbuh kembang otak bayi. Salah satu teknik efektif adalah memberi respon kepada cues bayi yang meminta dukungan dan perhatian.

Walaupun bayi belum bisa bicara, mereka memberi sinyal dari ekspresi wajah, gerak tubuh maupun tangisan. Respon seperti apa yang membuat anak merasa didengar, nyaman dan bahkan membangkitkan semangatnya?

Jawabannya ada empat. Pertama, yang memiliki sensitivitas. Ibu dapat merasakan keresahan bayi lewat gestur, ekspresi tanpa bayi harus menangis terlebih dahulu. Kedua, timing. Daripada membuat bayi kesal, respon yang diberikan harus cepat. Ketiga, kehangatannya. Apakah respon yang diberikan tulus? Hal seperti inilah yang membuat bayi Anda belajar secara sederhana makna kata trust. Terakhir, apakah respon yang diberikan sesuai dengan harapannya.

Contohnya ketika bayi dibacakan dongeng, dan pandangannya sudah tidak fokus. Respon orangtua semestinya menutup buku itu. Jangan sampai responnya adalah pura-pura tidak ngeh dan tetap memaksakan mendongeng sampai dia harus menangis untuk membuat Anda berhenti melakukan aktivitas.

BACA JUGA :
30 Hal Penting Sebelum Bayi Lahir (Part-1)
30 Hal Penting Sebelum Bayi Lahir (Part-2)
30 Hal Penting Sebelum Bayi Lahir (Part-3)
Stimulasi untuk Otak Bayi (Part-1)

#9. Merasa relaks

Cuddling atau bercanda juga sama pentingnya dengan stimulasi lain seperti mendongeng, mengajaknya bicara atau merangsangnya mengenali benda dan lingkungan sekitar. Clyde Hertzman, direktur Human Early Learning Partnership dan Canada Research Chair in Population Health and Human Population, menyayangkan apabila bayi terus dibombardir dengan suntikan ilmu dan bahasa, semata untuk tujuan memperkaya otaknya.

“Semuanya harus seimbang. Sangat disayangkan apabila Anda menjadi terlalu berambisi untuk memberi stimulasi optimal dan momen-momen spesial itu malah tercuri dengan ketegangan atau atmosfer kompetitif, “ Ditambahkan Annelia, koneksi terbaik adalah melalui cuddling dan bercanda yang santai, tulus, dan tak mengenal perhitungan. “Hanya dengan ibu dan pengasuh relaks, anak bisa relaks. Jangan pernah menyepelekan dirinya, pasalnya ia sangat peka dengan emosi orang-orang terdekatnya, “pesannya tegas.

#10. Bermain bersama

Dr Kyle Pruett, profesor fakultas psikologi anak dari Yale University, Connecticut, Amerika Serikat di artikel Mom And Dad Are Different: The Critical Role of Fathers menulis kalau saat bermain, ayah jarang menggunakan alat bantu dan permainan sifatnya physical. Karena itu, stimulasi taktil umumnya lebih dahsyat saat bermain dengan figur pria. Kebanyakan ayah memang lebih play oriented dari bunda, dan sukses membuat suasana bermain lebih seru.

Sementara dengan bunda, permainan sifatnya lebih edukatif, menggunakan alat bantu mainan dan hati-hati. Dari bermain dengan dua gender yang berbeda, anak mendapat stimulasi optimal dan belajar konsep bermain yang seimbang. Yakni permainan yang komplit itu bisa seru dan physical, namun bisa juga edukatif dan menenangkan.
Menurut Dr Soedjatmiko, untuk memperoleh hasil optimum, 10 stimulasi di atas saat diberikan harus memenuhi 4 syarat, yakni:
– Diberikan di atmosfer menyenangkan (tidak terburu-buru dan memaksakan kehendak) dan penuh cinta.
– Dilakukan sesering mungkin dan sifatnya kontinu.
– Memberikan stimulasi juga harus dalam keadaan happy. Kalau yang memberikan stimulasi dalam kondisi nggak niat, bosan atau kesal maka besar risiko rangsang yang diberikan sifatnya emosi negatif.
– Saat memberikan stimulasi juga harus memperhatikan kondisi bayi Anda. Apakah ia dalam kondisi fit, siap maupun senang.

Melihat Pola Tidur Bayi – Apakah Bunda melihat perbedaan pola tidur antara bayi Bunda dengan bayi yang lainnya? Ternyata, bayi memiliki pola tidur yang berbeda-beda. Bunda harus beradaptasi dengan pola bayi Bunda agar dapat memiliki tidur yang berkualitas. Dr. Ethan Benore, psikolog anak dari Akron Children’s Hospital di Ohio, Amerika Serikat, menyarankan orangtua untuk secara bertahap mengoreksi pola tidur yang menyimpang. Caranya dengan mengenali karakter tidurnya sehari-hari.

1. Nocturnal Baby

Bayi tipe ini belum mengenal siang dan malam. Siang hari, ketika orang-orang di sekelilingnya sibuk beraktivitas, ia malah asyik berkelana di alam mimpi. Sebaliknya, malam hari saat waktunya beristirahat, ia justru sedang segar-segarnya.

Atasi dengan :
– Melakukan berbagai aktivitas fisik di siang hari agar energinya banyak terpakai dan merasa lelah.
– Melatihnya untuk bisa menenangkan diri sendiri. Caranya, baringkan bayi di atas tempat tidur saat ia masih terjaga. Jika ia menangis, Bunda bisa menggendong dan memeluknya sejenak dan kembali membaringkannya kembali. Lakukan berulang kali hingga dia jatuh tertidur.
– Menghindari merespon tangis bayi di malam hari secara berlebihan. Cobalah memberi jeda waktu sebelum Bunda menghampirinya. Ia akan belajar cara menenangkan dirinya sendiri tanpa kehadiran Bunda.

2. Early Riser

Tipe bayi “early riser” biasanya tidak mengalami kesulitan untuk tidur pulas sepanjang malam. Tapi, mereka memiliki kebiasaan bangun tidur kelewat pagi—bahkan terkadang sebelum matahari terbit.

Atasi dengan :
– Gunakan lampu tidur yang redup, tirai berwarna gelap, pendingin ruangan dengan temperatur yang nyaman, dan kelambu antinyamuk.
– Memastikan ia sudah mendapatkan sesi minum susu terakhirnya hingga kenyang sebelum ia tertidur.
– Mempertahankan suasana kamar yang tetap redup di malam hari. Hindari merespon ajakannya untuk bermain sebelum pagi tiba.
– Memastikan bayi tidak pergi tidur dalam keadaan terlalu lelah. Kondisi ini bisa membuatnya mudah terbangun sebelum waktunya.

3. Cat Napper

Bayi yang memiliki gaya cat napper hanya bisa tidur selama beberapa menit, rata-rata hanya sekitar 30 menit dalam satu kali sesi. Ibaratnya, baru saja Bunda menarik napas sejenak, bayi sudah kembali terjaga. Sesi tidur “sekejap” ini, kerap membuat bayi mengantuk meski sudah terbangun.

Atasi dengan :
– Menyiapkan ruang tidur bayi yang nyaman dan kondusif agar ia bisa tidur lebih lama.
– Membedong bayi di dalam pelukan agar ia bisa merasakan kehangatan serta kenyamanan pelukan Bunda.

4. Restless Sleepers

Bayi yang satu ini kerap terlihat gelisah dalam tidurnya, seperti orang dewasa yang sedang bermimpi buruk. Dia mudah terbangun karena penyebab yang tidak jelas.

Atasi dengan :
– Bayi yang terserang kolik juga terkadang menunjukkan gejala tidur yang gelisah. Jika memang kolik, minta saran dari dokter anak untuk meredam keluhannya. Bunda juga perlu menghindari konsumsi makanan yang bersifat alergen seperti kacang tanah, susu, dan seafood, pijat bayi serta mengoreksi posisi menyusui.
– Memastikan bayi tidur dalam kondisi perut kenyang agar tidak terbangun dan atur agar ia bisa tidur dengan nyaman. Kenakan pakaian tidur berbahan tipis namun mampu menutupi seluruh tubuhnya, atur suhu ruangan agar tidak terlalu dingin dan tidak terlalu panas, serta redupkan lampu.

5. Predictable sleeper

Bayi dalam kategori predictable sleeper terbiasa tidur dan bangun pada waktu semestinya. Mereka memiliki jadwal tidur yang tetap dan tidak memiliki masalah dalam menenangkan diri sendiri ketika terbangun di malam hari.

Atasi dengan :
– Memelihara dan menerapkan jadwal tidur secara konsisten tidak hanya di rumah tapi saat berada di perjalanan atau menginap di tempat lain.

Cara Menstimulasi Bayi Merangkak – Tidak bisa diam adalah nama tengah bayi yang berusia 6 bulan ke atas, karena pada umumnya mereka sudah sangat aktif. Inilah saat yang tepat untuk melatih keterampilannya bergerak, agar dapat segera bisa merangkak atau merayap.

Berikut 5 kegiatan stimulasi yang akan membantu bayi saat merangkak :

1. Mencari Mainan

Cara Menstimulasi Bayi Merangkak

Sediakan matras atau alas yang agak berat, handuk tebal dan mainan favorit si kecil. Taruh bayi Bunda di atas matras dan letakkan mainan favoritnya agak jauh di depan bayi. Bunda bisa memberikan contoh gerakan merangkak dan meraih mainan tersebut sambil bernyanyi. Ajak si kecil untuk mengulangi gerakan tersebut.

2. Terowongan Kardus

Cara Menstimulasi Bayi Merangkak

Siapkan kardus kosong yang sudah tidak terpakai dan pastikan kardus tersebut sudah bersih bebas dari debu. Pilihlah kardus yang kokoh, besar dan cukup untuk dilalui Bunda dan si kecil. Buka kedua sisi sehingga terlihat seperti terowongan. Ayah juga bisa membantu memegang kedua sisi kardus agar lebih aman. Secara perlahan Bunda melalui terowongan kardus tersebut dan pancing si kecil untuk mengikuti Bunda.

3. Merangkak Bersama

Cara Menstimulasi Bayi Merangkak

Bayi biasanya akan merekam apa yang dilakukan orang di sekitarnya. Karenannya Bunda bisa memberikan contoh yang menyenangkan. Seperti saat ia mulai mencoba merangkak, Bunda ikut merangkak di sebelahnya. Pastikan jalur merangkak aman, jauhkan berbagai macam benda-benda yang tajam dan berbahaya. Jadikan aktifitas ini menjadi rutinitas yang menyenangkan.

4. Mengejar Mainan

Cara Menstimulasi Bayi Merangkak

Sediakan mainan yang bisa bergelinding atau memantul, seperti drum, bola, boneka dan sebagainya. Gelindingkan mainannya di depan sang buah hati dan lihat reaksinya. Sang buah hati pasti akan mengejar mainannya.

5. Panjat Bantal

Cara Menstimulasi Bayi Merangkak

Saat bayi sudah mulai merangkak, Bunda perlu menstimulasi otot kakinya agar semakin kuat. Permainan panjant bantal bisa jadi salah satu solusinya. Buatlah tumpukan bantal di tempat tidur Bunda. Pastikan sekeliling tempat tidur sudah diberikan pengaman seperti bantal, selimut tebal dan lainnya. Agar sang buah hati mau memanjat, sudah pasti mainan favoritnya dijadikan pancingan. Letakkan mainan favoritnya di atas tumpulan bantal atau dibalik bantal, lalu ajak ia untuk mengambil mainan tersebut dengan cara merangkak dan memanjat sedikit. Penting bagi Bunda untuk selalu mengawasi agar permainnya berjalan dengan aman.