MITOS & FAKTA TERKAIT MAKANAN/MINUMAN IBU MENYUSUI

23. MITOS: Busui tidak boleh makan cabai/sambal karena nanti anaknya diare
FAKTA: tidak semua bayi sensitif terhadap capsaicin, zat yang terdapat dalam cabai. Silakan makan pedas dalam jumlah yang wajar dan amati reaksi bayi setelah ibu mengkonsumsinya.

24. MITOS : Busui tidak boleh makan cabai/sambal karena biji cabe akan keluar lewat feses bayi
FAKTA: bentuk feses bayi ASI memang teksturnya terkadang seperti biji cabai ini bukan karena ibu makan pedas/sambal/cabai. Tekstur feses bayi ASIX yang normal adalah cair dengan ampas, berbentuk lembek atau krim, atau berbiji-biji.

25. MITOS: Tiap mau menyusui harus minum yang hangat-hangat agar ASI juga hangat.
FAKTA: suhu ASI selalu mengikuti suhu tubuh ibu. ASI dalam payudara umumnya bersuhu 37-38 derajat Celcius terlepas apapun yang ibu konsumsi.

26. MITOS : Busui tidak boleh minum dingin/es agar bayi tidak pilek
FAKTA: pilek bisa terjadi karena paparan virus dari lingkungan, bukan karena apa yang dikonsumsi oleh ibunya.

27. MITOS: Ibu menyusui harus banyak makan agar ASI-nya banyak.
FAKTA: kuantitas ASI tidak ditentukan oleh berapa banyak makan ibu, tetapi oleh demand/kebutuhan bayi. Ibu harus menyusui sesuai dengan kehendak bayi dan harus selalu berpikiran positif bahwa ASI-nya cukup untuk bayinya. Selama ibu menyusui, dia harus makan makanan dengan gizi berimbang agar nutrisi dalam tubuh ibu tidak tekor karena digunakan untuk produksi ASI.

28. MITOS: Ibu menyusui harus minum jamu agar ASI menjadi kental
FAKTA: ASI selalu terdiri dari dua bagian, yang encer dan kaya protein disebut foremilk, sementara yang kental dan kaya lemak disebut hindmilk, terlepas apapun yang dikonsumsi ibu.

29. MITOS: Ibu menyusui yang jarang makan sayur membuat bayinya sembelit
FAKTA: bayi ASIX tidak akan sembelit karena ASI mengandung zat pencahar/ laksatif. Frekuensi BAB yang kadang jarang pada bayi ASIX disebabkan karena ASI yang dia konsumsi terserap semua sesuai dengan kebutuhannya saat itu. Kalau ibunya makan makanan berserat seperti sayur dan buah, yang akan lancar buang air besar adalah ibunya. Namun bagaimanapun juga ibu menyusui harus makan makanan yang bernutrisi untuk menjaga kondisi tubuhnya dan menjaga asupan micronutrients (vitamin dan mineral) dalam ASI.

30. MITOS: Ibu menyusui tidak boleh makan berbau amis seperti ikan,daging,telur
FAKTA: ibu menyusui boleh mengkonsumsi sumber-sumber protein seperti ikan, daging, dan telur selama si bayi tidak menunjukkan ciri-ciri alergi.

31. MITOS: Ibu menyusui harus makan daun katuk atau pare agar ASI-nya deras
FAKTA: Produksi ASI ditentukan oleh seringnya ibu menyusui atau memerah, ditambah dengan pikiran positif ibu bahwa ASI-nya cukup. Tidak ada yang salah dengan mengkonsumsi daun katuk atau pare, karena konsumsi sayuran baik untuk ibu menyusui. Tetapi pada dasarnya ibu bisa makan apapun yang dia sukai. Kalau ibu menikmati apa yang dia makan, ASI-nya akan deras karena hati ibu merasa senang. Jadi, apapun makanan favorit atau bahkan aktivitas yang disukai ibu bisa jadi booster ASI yang baik bagi ibu yang bersangkutan.

32. MITOS: Kalau bayi sakit, maka ibu yang minum obatnya karena obatnya bisa mengalir lewat ASI
FAKTA: Kalau ibu yang sakit yang diobati si ibu, kalau bayi yang sakit yang diobati bayinya. Obat yang ibu minum akan diproses oleh organ pencernaan ibu dan diserap oleh tubuh ibu. Akhirnya yang sampai ke ASI sangat sangat sedikit dan bisa jadi tidak ada sama sekali. Meskipun demikian ada beberapa kategori obat yang tidak boleh diminum oleh busui karena bisa berpengaruh di ASI atau berbahaya bagi bayi. Lagipula jenis obat dan dosis obat untuk dewasa dan bayi itu berbeda. Misalnya, obat batuk untuk anak dengan obat batuk untuk dewasa jelas berbeda. Kalaupun ada saat dimana bayi harus minum obat yang diberikan oleh dokter, perlu diketahui bahwa dosis obat yang diberikan pada bayi sangat rendah dibandingkan dengan dosis obat orang dewasa. Biasanya obat untuk bayi diberikan dengan perhitungan miligram per berat badan bayi. Bisa dibayangkan bila obat tersebut yang minum ibunya, meskipun ada beberapa jenis obat yang bisa saja terserap dalam ASI namun tentu saja sudah tidak bisa dijadikan sebagai cara pengobatan yang sesuai ketentuan. Maka tak heran bila bayi yang sakit tidak sembuh-sembuh akibat ibu yang mengkonsumsi obat tersebut.

33. MITOS: Ibu yang mengkonsumsi obat-obatan tidak boleh menyusui
FAKTA: Tidak semua obat-obatan menghalangi ibu untuk menyusui. Konsumsi beberapa jenis obat dalam waktu tertentu masih diperbolehkan pada ibu menyusui. Namun sebaiknya penggunaan obat – obatan tertentu selama menyusui dilakukan dibawah pengawasan dokter untuk menjamin keamanannya. Saat ibu berobat karena sakit, jangan lupa sampaikan kepada dokter jika ibu sedang menyusui.

MITOS & FAKTA TERKAIT KONDISI & KUALITAS ASI

10. MITOS: Sedikitnya produksi ASI dikarenakan faktor genetik
FAKTA: Faktor genetik tidak mempengaruhi produksi ASI, ASI diproduksi semakin banyak jika ibu semakin sering menyusui atau memerah

11. MITOS: ASI yang keluar dari ibu yang sudah berusia di atas 40 tahun sudah tidak lagi baik
FAKTA: ASI yang diproduksi semua perempuan di berbagai usia kualitasnya sama baiknya

12. MITOS: ASI pagi hari itu basi jadi harus diperah dulu dan dibuang baru boleh menyusui bayi.
FAKTA: ASI kapanpun selalu dalam kondisi yang baik dan siap disajikan untuk bayi.

13. MITOS: Kalau sudah berhubungan suami istri, kualitas ASI tidak akan baik bagi bayi.
FAKTA: ibu bisa tetap berhubungan badan dengan suami. Berhubungan badan seringkali justru bisa meningkatkan kinerja hormon oksitosin dan memperlancar ASI.

14. MITOS: Kalau ibu keluar rumah ASI harus dibuang dulu sebelum menyusui lagi. Jika tidak nanti bayinya masuk angin.
FAKTA: ASI dalam payudara selalu dalam kondisi baik dan siap disajikan untuk bayi.

15. MITOS: Payudara harus digoyang-goyangkan dulu sebelum menyusui agar ASI tercampur dengan baik
FAKTA: ASI selalu terdiri dari foremilk dan hindmilk, keduanya keluar bergantian. Jika waktu menyusui cukup dan si kecil menghabiskan satu payudara hingga tertidur atau kenyang maka dia akan mendapatkan keduanya.

16. MITOS: ASI jangan sampai kena alat kelamin bayi karena bisa mengakibatkan mandul.
FAKTA: ASI tidak akan menyebabkan kemandulan. Jikapun sampai terkena alat kelamin, cukup bersihkan dengan air hingga bersih.

17. MITOS: Ibu yang sudah mendapatkan haid tidak boleh lagi menyusui karena ASI-nya menjadi amis dan tidak lagi segar.
FAKTA: ibu yang sudah haid tetap menghasilkan ASI yang berkualitas untuk bayinya. Namun penurunan produksi ASI pada ibu yang sedang haid kadangkala terjadi terkait hormonal. Penurunan ini hanya sementara dan akan kembali normal selepas masa haid.

18. MITOS: ASI yang encer berarti kualitasnya tidak baik.
FAKTA: ASI memang terdiri dari dua bagian, yang encer disebut foremilk (ASI awal) yang kaya protein dan laktosa. ASI yang lebih kental disebut hindmilk (ASI akhir) yang kaya lemak. Keduanya sama penting untuk bayi.

19. MITOS: ASIP jika disimpan lama akan berubah menjadi darah.
FAKTA: ASIP ya tetap ASI, tidak akan menjadi darah. Jangan lupa lakukan manajemen ASIP yang benar agar ASIP layak konsumsi.

20. MITOS: ASI yang pertama keluar setelah bayi lahir itu adalah ASI basi karena warnanya kuning, jadi harus dibuang.
FAKTA: ASI yang keluar segera setelah bayi dilahirkan adalah kolostrum yang manfaatnya sangat besar bagi system imunitas bayi. Proses Inisiasi Menyusu Dini (IMD) justru salah satunya bertujuan agar bayi bisa memperoleh cairan kolostrum yang sangat berharga ini.

21. MITOS : Jika ASI belum atau tidak lancar di hari-hari pertama setelah melahirkan dapat digantikan dengan susu formula.
FAKTA: Belum keluarnya ASI pada hari pertama kelahiran adalah sesuatu yang normal. Hari-hari pertama ditandai dengan keluarnya kolostrum dengan jumlah yang kecil tetapi sangat penting untuk antibodi bayi. ASI matang baru keluar sekitar hari ke-3 sejak melahirkan. Bayi sendiri secara alami akan tahan selama 3 hari sejak lahir tanpa ASI. Sayangnya, banyak ibu menjadi keburu pesimis karena ASI yang tidak langsung keluar itu. Pemberian makanan lain selain ASI meningkatkan risiko terganggunya usus bayi yang belum siap.

22. MITOS: ASI yang tidak dikeluarkan akan menjadi kanker
FAKTA: Tidak benar. Kalau ASI yang tidak dikeluarkan akan menjadi kanker, maka semua ibu menyusui yang kemudian menyapih akan kena kanker. Ketika pengeluaran ASI tidak maksimal dan banyak ASI yang tertinggal atau tidak dikeluarkan oleh bayi atau tidak diperah, maka hormon akan merangsang payudara untuk menghambat produksi ASI selanjutnya, sehingga produksi ASI dalam payudara berkurang. Apabila hal ini berlagsung berulang-ulang, maka ASI akan berhenti dihasilkan secara bertahap. Mekanisme ini sangat membantu untuk beberapa sebab, misalnya bayinya meninggal atau ketika ibu akan menyapih bayi menyusu.

Setiap negara memiliki berbagai mitos tersendiri tentang ASI dan menyusui, tidak terkecuali di Indonesia. Bahkan di Indonesia, pemahaman yang keliru tentang berbagai mitos menyusui kerap kali secara signifikan berkontribusi pada kegagalan menyusui. Masih rendahnya pemahaman tentang berbagai aspek terkait ASI dan menyusui membuat para ibu akhirnya menyerah pada susu formula.

Berikut adalah mitos-mitos terkait ASI dan menyusui yang banyak ditemukan di masyarakat Indonesia. Mitos ini dari hasil pengamatan ragam pertanyaan yang sering diajukan terkait mitos ASI dan menyusui di forum online.

MITOS DAN FAKTA TERKAIT KONDISI PAYUDARA IBU MENYUSUI

1. MITOS: Ibu yang putingnya belah tidak boleh menyusui karena jika menyusui maka bayinya akan meninggal dunia
FAKTA: Puting belah sebagaimana bentuk puting yang lain tetap dapat menyusui karena bayi tidak menyusu pada puting tetapi menyusu pada payudara dengan mengikutsertakan areola. Sejauh ini belum ada laporan ilmiah tentang adanya bayi yang meninggal setelah menyusu pada ibu yang putingnya terbelah.

2. MITOS: menyusui membuat payudara ibu menjadi kendur atau berubah bentuk
FAKTA: kehamilan serta usia ibulah yang merubah bentuk payudara, bukan aktivitas menyusui.

3. MITOS: Seorang wanita yang telah melakukan operasi pada payudara tidak dapat menyusui.
FAKTA: Banyak ibu yang melakukan operasi pada payudara dan tetap menyusui. Jika tindakan bedah tidak mempengaruhi kelenjar ASI, maka ibu tetap bisa menyusui dengan baik sebagaimana ibu-ibu lain pada umumnya yang belum pernah menjalani tindakan bedah pada payudara. Jika Ibu harus menjalani prosedur bedah payudara, konsultasikan secara lengkap ke dokter yang menanagani Ibu apakah prosedurnya tetap dapat membuat Ibu menyusui di kemudian hari.

4. MITOS: Payudara sebelah kanan adalah nasi, payudara kiri adalah lauknya. Jadi menyusu harus di kedua payudara agar lengkap makanan bagi si bayi.
Atau dalam versi lain yang sejenis juga sering dikatakan:
Payudara sebelah kanan adalah makan, payudara kiri adalah minumnya. Jadi menyusu harus di kedua payudara agar lengkap makanan bagi si bayi.
FAKTA: Isi payudara kanan dan kiri sama saja, foremilk dan hindmilk. Biarkan bayi menyusu pada satu payudara hingga “habis”, bila masih kurang baru tawarkan payudara satunya agar dia mendapatkan foremilk dan hindmilk yang seimbang.

5. MITOS: Ibu dengan ukuran payudara yang kecil tidak bisa memproduksi ASI yang cukup untuk bayinya.
FAKTA: Ukuran payudara tidak ada hubungannya dengan produksi. Apapun ukuran payudara ibu, ASI akan selalu cukup untuk bayi jika ibunya rajin menyusui/memerah dan selalu berpikir positif. Besar/kecilnya payudara pada dasarnya tergantung dari jaringan lemak di dalam payudara.

6. MITOS: Ibu yang putingnya berdarah tidak boleh menyusui.
FAKTA: Meskipun darah yang kadang masuk ke ASI bisa membuat bayi gumoh lebih banyak, atau darah dari luka di puting ibu bahkan mungkin muncul dalam buang air besar si bayi, ini bukan alasan untuk berhenti menyusui bayi. Puting susu yang sakit dan berdarah tidak lebih buruk dari puting susu yang sakit dan tidak berdarah. Jika puting luka dan sakit sekali, boleh diistirahatkan selama 1-2 hari dari proses menyusui langsung dan selama itu ASI diperah dengan tangan sesering mungkin dan ASIP diberikan dengan media selain dot. Jika luka membaik, silakan menyusui kembali. Jangan lupa oleskan ASI pada puting untuk mempercepat sembuhnya luka atau lecet. Perbaiki juga pelekatan menyusui agar puting tidak mudah lecet.

7. MITOS: Wanita dengan puting datar atau terbenam tidak bisa menyusui.
FAKTA: Bayi tidak menyusui pada puting susu, mereka menyusu pada payudara. Meskipun mungkin lebih mudah bagi bayi untuk melekat pada payudara dengan puting menonjol, puting tidak harus tetap keluar. Sebuah awal yang tepat biasanya akan mencegah masalah menyusui dan ibu dengan berbagai bentuk puting bisa menyusui dengan baik. Nipple shield atau penyambung puting tidak dianjurkan karena walau kelihatannya bisa menyelesaikan masalah, penggunaannya dapat mengakibatkan proses menyusui yang buruk karena pelekatan yang tidak tepat. Jika pelekatan tidak tepat, maka ASI yang diperoleh bayi juga tidak akan optimal.

8. MITOS: Payudara yang “lembek” adalah payudara yang tidak ada ASInya.
FAKTA: Payudara “lembek” adalah tanda pengeluaran ASI (baik menyusui dan memerah) lancar. Payudara yang keras justru menandakan pengeluaran ASI tidak lancar, apabila hal ini dibiarkan justru akan mengganggu produksi ASI bahkan bisa menyebabkan radang payudara (mastitis)

9. MITOS: Menyusui adalah perjuangan atau jihadnya seorang ibu, makanya adalah normal jika proses menyusu menimbulkan rasa sakit Dan ibu harus menahan rasa sakitnya karena menyusui agar si bayi bisa tetap mendapatkan ASI.
FAKTA: Walaupun bukan sesuatu hal yang aneh jika pada hari-hari pertama menyusui seorang ibu akan merasa sedikit kurang nyaman pada payudaranya, tapi kondisi ini seharusnya hanya berlangsung selama beberapa waktu saja, dan tidak boleh menjadi sedemikian parahnya sehingga seorang ibu menjadi takut untuk menyusui bayinya. Rasa sakit yang amat sangat pada puting ketika sedang menyusui menandakan bahwa bayi belum sempurna pelekatannya. Sakit atau lecet pada puting yang berlangsung selama lebih dari 3-4 hari tidak boleh diabaikan, harus dicari tahu penyebabnya. Perbaiki pelekatan menyusui jika payudara lecet. Jika payudara lecet terus terjadi meski pelekatan sudah diperbaiki, segera bawa bayi ke dokter yang paham tentang tongue tie untuk melihat jika ada kemungkinan si bayi mengalami tongue tie. Menyusui adalah momen yang indah dan intim antara ibu dan bayi, sehingga prosesnyapun harus bebas dari rasa sakit.

Cara menyajikan ASIP perlu diperhatikan karena kesalahan dalam penyajian dapat merusak komposisi ASI. Perlu diingat bahwa ASIP beku yang sudah mencair, tidak boleh dibekukan lagi dan ASIP yang sudah dihangatkan, tidak boleh dihangatkan lagi.

Biasanya ASIP beku yang sudah dicairkan dapat disimpan di dalam kulkas bawah selama 24 jam. Hindari peningkatan/penurunan suhu secara drastis karena akan merusak komposisi dan mengganggu aktifitas anti-bakteri yang terkandung didalam ASI. Jadi jangan pernah mencairkan ASIP dengan merebus ataupun memanaskan di microwave.

Berikut adalah langkah-langkah mencairkan ASIP :

1. ASIP yang beku di freezer harus dipindahkan ke kulkas bawah dahulu pada malam sebelum digunakan.
2. Biasanya dalam 12 jam, ASIP yang sudah dipindahkan ke kulkas bawah akan mencair
Jika membutuhkan cara yang lebih cepat, bisa coba cara ini:

1. Cairkan dengan mengalirinya di bawah keran air
2. Cairkan deangan air hangat yang suhunya naik secara perlahan
3. Rendam botol di mangkuk air hangat, jika air sudah dingin maka ganti lagi dengan air hangat
4. Bisa gunakan Bottle Warmer dan naikkan suhu secara bertahap namun tidak boleh lebih dari 40⁰C karena komposisi ASI bisa rusak pada suhu 40⁰C
Cara Menghangatkan ASIP :
Sebenarnya tidak ada aturan untuk menghangatkan ASIP. Selain karena kebiasaan saja untuk menyajikan secara hangat, mungkin juga karena ASI dari payudara memang selalu hangat pada suhu 37⁰ C. Boleh disajikan dingin jika memang bayi menyukainya. Penelitian juga menunjukkan bahwa temperatur ASIP yang diberikan tidak mempengaruhi pengosongan ASIP.
Setelah dicairkan, ASIP tidak boleh dibekukan kembali. ASIP yang sudah dihangatkan juga tidak boleh dihangatkan lagi. Pembekuan dan Penghangatan kembali dapat merubah komposisi ASI.

Bagi Ibu menyusui, tentunya tidak terlepas dari kegiatan memerah ASI. Karenanya, penting untuk mengetahui daya tahan ASIP dan bagaimana cara menyimpannya.

Berikut adalah daya tahan ASIP / jangka waktu ideal ASIP dikonsumsi oleh bayi tercinta :

  • Disimpan pada wadah tertutup pada suhu kamar (16-29⁰C)
    Pada suhu ini, jika wadah penyimpanan telah disterilkan dan ditutup rapat maka ASIP dapat bertahan hingga 6-8 jam. Tetapi idealnya adalah 3-4 jam.
  • Menggunakan icepack/coolbox (15⁰C)
    Penyimpanan dengan menggunakan icepack/coolbox dapat mempertahankan ASIP hingga 24 jam. Pastikan untuk tidak membuka coolbox berulang kali untuk mempertahankan suhunya.
  • Disimpan di kulkas (0-4⁰C)
    ASIP harus diletakan dibagian belakang kulkas dan bukan diletakan dibagian depan ataupun dibagian pintu kulkas. Jika disimpan dengan baik, maka ASIP dapat bertahan hingga 5-6 hari, tetapi daya tahan idealnya adalah 48-72 jam. ASI yang baru diperah dan tidak langsung disimpan ke kulkas dapat menurunkan daya tahannya.
  • Disimpan di freezer 1 pintu (-15⁰C)
    Daya tahan ideal ASIP yang disimpan adalah 2-3 bulan dan jika disimpan dengan baik maka ASIP dapat bertahan hingga 6-12 bulan.
  • Disimpan di freezer 2 pintu (-18⁰C)
    Daya simpan ideal ASIP yang dibekukan pada suhu ini adalah 3-6 bulan dan jika dibekukan dengan baik maka ASIP dapat bertahan hingga 6-12 bulan.

 

Cara menyimpan ASIP :

– Semakin dingin maka semakin lama juga ASIP dapat disimpan.
– Hindari peningkatan/penurunan suhu secara drastis.
– ASIP beku yang sudah mencair, tidak boleh dibekukan lagi.
– ASIP yang sudah dihangatkan, tidak boleh dihangatkan lagi.
– Masukkan ke freezer jika akan digunakan lebih dari 8 hari.

 

Pilihan wadah terbaik untuk menyimpan ASIP :

1. Botol kaca (sisa ASI cenderung tidak menempel pada botol kaca).
2. Jika menggunakan botol plastik, pastikan yang BPA Free (bebas Bisphenol A).
3. Plastik ASIP dengan mutu baik.
Hal yang harus diperhatikan saat ingin menyimpan ASIP :

1. Wadah harus dicuci bersih (pakai air, sabun, dibilas, direbus dan dikeringkan) sebelum dipakai.
2. Botol tidak boleh diisi sampai penuh karena ASI akan memuai.
3. Takaran ASIP di botol sebaiknya antara 60 – 120 ml sesuai dengan kebiasaan jumlah yang diminum oleh bayi. Jadi ASIP dapat dihabis dalam sekali minum dan tidak ada sisa.
4. Jangan gunakan plastik es yang biasa karena pada beberapa jenis plastik dapat merusak nutrisi di dalam ASIP.