Stimulasi untuk Otak Bayi (Part-2)

Stimulasi untuk Otak Bayi

#5. Berbicara

Bayi dari sejak lahir atau bahkan di kandungan sudah bisa mendengar dan mengerti suara orang-orang terdekatnya, terutama ibu. Maka dianjurkan untuk berbicara pada bayi atau anak sesering mungkin dengan penuh kasih sayang, walaupun anak belum mampu menjawab. Pasalnya bayi bisa mengekspresikan perasaannya dengan senyuman, gerakan bibir, berteriak sampai menangis. Menurut Dr Soedjatmiko, yang bisa dilakukan ibu atau pengasuh untuk membuat aktivitas ini menyenangkan namun informatif, adalah dengan beberapa teknik.

Pertama, bertanya dengan bahasa sederhana padanya. Misal: Adik haus ya? Kedua, memberi komentar pada perasaan anak juga dengan bahasa simpel. Contohnya: Kasihan, adik rewel kepanasan, ya? Ketiga, memberi komentar akan keadaan atau perilaku bayi. Seperti: Wah, rambutmu panjang. Empat, bercerita tentang benda-benda di sekitar bayi. Misalnya. Lihat ini bantal warnanya merah muda.

#6. Mengenalkan aroma

Pertama kali bayi mengenal ibu atau pengasuhnya bukan dari wajah maupun namanya, namun dari aromanya. Ia juga mampu mengenali aroma air susu ibu. Menurut Denise Davy, penulis yang mendapat penghargaan jurnalisme dari Canadian Institute of Research, aroma yang berbeda menstimulasi tumbuh kembang otak bayi. Karena itu apabila anak sudah diperkenalkan kepada MPASI, berilah ia waktu untuk mencium dan mempelajari aroma makanan baru tersebut. Alternatif lain? Di hari libur, ajak dirinya pergi ke taman dan membiarkannya mencium aroma udara, tanah hingga bebungaan.

Menurut Anelia, dari aroma anak mampu mengasosiasikan atau membangunkan kembali memori powerful. Misalnya saat mencium aroma popcorn, bertepatan dengan ia mendapat limpahan kasih sayang dari orang-orang terdekatnya. Otomatis, saat aroma popcorn itu kembali tercium, ingatannya akan kembali ke masa-masa indah tersebut. Menakjubkan bukan?

#7. Saat mandi

Saat mandi, anak bisa mendapat stimulasi kaya yang membantu tumbuh kembang otaknya. Pasalnya, dari aktivitas mandi, ia bisa mendapat multi stimulasi dari auditori, visual, taktil (rasa kena air panas atau rambut disampo), kognitif (diperkenalkan sabun, sampo dan fungsinya) bahkan mengasah sejak dini konsep body image sampai body awareness.

#8. Merespons

Di artikelnya Keys to Enhancing Brain Development in Young Children, Sean Brotherson, psikolog keluarga senior dari North Dakota State University, Amerika Serikat, menyatakan lingkungan yang aman, ramah dan predictable menghasilkan situasi belajar optimum dan meroketkan tumbuh kembang otak bayi. Salah satu teknik efektif adalah memberi respon kepada cues bayi yang meminta dukungan dan perhatian.

Walaupun bayi belum bisa bicara, mereka memberi sinyal dari ekspresi wajah, gerak tubuh maupun tangisan. Respon seperti apa yang membuat anak merasa didengar, nyaman dan bahkan membangkitkan semangatnya?

Jawabannya ada empat. Pertama, yang memiliki sensitivitas. Ibu dapat merasakan keresahan bayi lewat gestur, ekspresi tanpa bayi harus menangis terlebih dahulu. Kedua, timing. Daripada membuat bayi kesal, respon yang diberikan harus cepat. Ketiga, kehangatannya. Apakah respon yang diberikan tulus? Hal seperti inilah yang membuat bayi Anda belajar secara sederhana makna kata trust. Terakhir, apakah respon yang diberikan sesuai dengan harapannya.

Contohnya ketika bayi dibacakan dongeng, dan pandangannya sudah tidak fokus. Respon orangtua semestinya menutup buku itu. Jangan sampai responnya adalah pura-pura tidak ngeh dan tetap memaksakan mendongeng sampai dia harus menangis untuk membuat Anda berhenti melakukan aktivitas.

BACA JUGA :
30 Hal Penting Sebelum Bayi Lahir (Part-1)
30 Hal Penting Sebelum Bayi Lahir (Part-2)
30 Hal Penting Sebelum Bayi Lahir (Part-3)
Stimulasi untuk Otak Bayi (Part-1)

#9. Merasa relaks

Cuddling atau bercanda juga sama pentingnya dengan stimulasi lain seperti mendongeng, mengajaknya bicara atau merangsangnya mengenali benda dan lingkungan sekitar. Clyde Hertzman, direktur Human Early Learning Partnership dan Canada Research Chair in Population Health and Human Population, menyayangkan apabila bayi terus dibombardir dengan suntikan ilmu dan bahasa, semata untuk tujuan memperkaya otaknya.

“Semuanya harus seimbang. Sangat disayangkan apabila Anda menjadi terlalu berambisi untuk memberi stimulasi optimal dan momen-momen spesial itu malah tercuri dengan ketegangan atau atmosfer kompetitif, “ Ditambahkan Annelia, koneksi terbaik adalah melalui cuddling dan bercanda yang santai, tulus, dan tak mengenal perhitungan. “Hanya dengan ibu dan pengasuh relaks, anak bisa relaks. Jangan pernah menyepelekan dirinya, pasalnya ia sangat peka dengan emosi orang-orang terdekatnya, “pesannya tegas.

#10. Bermain bersama

Dr Kyle Pruett, profesor fakultas psikologi anak dari Yale University, Connecticut, Amerika Serikat di artikel Mom And Dad Are Different: The Critical Role of Fathers menulis kalau saat bermain, ayah jarang menggunakan alat bantu dan permainan sifatnya physical. Karena itu, stimulasi taktil umumnya lebih dahsyat saat bermain dengan figur pria. Kebanyakan ayah memang lebih play oriented dari bunda, dan sukses membuat suasana bermain lebih seru.

Sementara dengan bunda, permainan sifatnya lebih edukatif, menggunakan alat bantu mainan dan hati-hati. Dari bermain dengan dua gender yang berbeda, anak mendapat stimulasi optimal dan belajar konsep bermain yang seimbang. Yakni permainan yang komplit itu bisa seru dan physical, namun bisa juga edukatif dan menenangkan.
Menurut Dr Soedjatmiko, untuk memperoleh hasil optimum, 10 stimulasi di atas saat diberikan harus memenuhi 4 syarat, yakni:
– Diberikan di atmosfer menyenangkan (tidak terburu-buru dan memaksakan kehendak) dan penuh cinta.
– Dilakukan sesering mungkin dan sifatnya kontinu.
– Memberikan stimulasi juga harus dalam keadaan happy. Kalau yang memberikan stimulasi dalam kondisi nggak niat, bosan atau kesal maka besar risiko rangsang yang diberikan sifatnya emosi negatif.
– Saat memberikan stimulasi juga harus memperhatikan kondisi bayi Anda. Apakah ia dalam kondisi fit, siap maupun senang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*