Dehidrasi Pada Bayi

Dehidrasi Pada Bayi – Bisakah kita menilai bayi cukup minum ASI atau susu formula melalui warna urine? Dikatakan oleh dr. Patria, kecukupan ASI atau susu formula pada bayi biasanya dinilai dari segi klinis. “Bila bayi cukup ASI atau susu formula, maka bayi tersebut akan kenyang yang ditandai dengan bayi tidak rewel, aktif, tidur nyenyak serta terdapat kenaikan berat badan,” ulasnya.

Walau begitu, Moms bisa juga kok menilai apakah si kecil cukup minum atau tidak dari frekuensi buang airnya. “Frekuensi buang air kecil pada bayi secara tidak langsung dapat juga untuk menilai kecukupan asupan ASI atau susu formula. Bila bayi cukup minum maka akan BAK 3 – 4 kali sehari atau bahkan sampai 8 kali sehari. Bila bayi kurang minum atau dehidrasi, maka biasanya frekuensi BAK akan berkurang atau jumlah urine sedikit, sehingga warna urine akan terlihat kuning pekat,” dr. Patria menjelaskan panjang lebar.

Hmm, dengan memerhatikan frekuensi pipis si kecil dan warna urine-nya, Moms bisa mengukur apakah si kecil cukup minum atau tidak dan bisa ditindaklanjuti. Kalau begitu, jangan remehkan warna urine si kecil ya, Moms!
Bayi Jarang Pipis

Dalam sehari, normalnya bayi buang air kecil sekitar 3 – 4 kali. Jika lebih dari jumlah itu pun oke-oke saja, kecuali bila pipisnya sangat sering (lebih dari 10 kali/hari) atau jarang sama sekali. “Tapi selama tidak ada tanda-tanda dehidrasi atau bayi menjadi lesu dan rewel, tak perlu terlalu mempermasalahkannya,” hibur dr. Patria.

Namun waspadai bila frekuensi BAK bayi jarang/menjadi jarang. “Misalnya, satu hari hanya sekali padahal biasanya biasanya 4 kali, atau sejak lahir si kecil memang jarang pipis padahal asupan cairannya mencukupi,” lanjutnya.

Nah, ada beberapa penyebab frekuensi BAK yang jarang, yaitu:

1. Bayi mengalami kekurangan cairan. Ini bisa terjadi karena ibu yang menyusui kurang banyak minum atau bayi sedang mengalami muntah-muntah atau berkeringat berlebihan. Kondisi seperti ini dapat diatasi dengan banyak memberi asupan cairan pada bayi. “Pada ibu menyusui, misalnya, musti banyak minum. Namun untuk kasus bayi muntah-muntah, sebaiknya bayi segera dibawa ke dokter untuk mencari penyebabnya dan mencegahnya dari dehidrasi,” dr. Patria memberi saran.

2. Pada bayi laki-laki, coba perhatikan ujung kulupnya apakah terlihat kecil atau tidak. Bila ya, bisa jadi ia mengalami phymosis (ujung kulup kecil) sehingga menyebabkannya jarang BAK. Sebagai solusi, biasanya dokter akan melakukan pembesaran dengan cara sunat. Kondisi ini perlu diatasi segera karena jika dibiarkan bisa menimbulkan infeksi pada saluran kencing bayi.

3. Sukar pipis pada bayi perempuan bisa disebabkan karena terjadi infeksi pada organ intimnya meski bisa juga BAK-nya justru jadi lebih sering. Sebagai pecegahan, sehabis BAK, lubang kencing dan daerah sekitarnya musti langsung dibersihkan.
Sisa air seni bisa mengendap di lipatan-lipatan sekitar kelaminnya dan menimbulkan infeksi. Perhatikan juga teknik menceboki. Jangan menceboki dari arah belakang ke depan namun dari depan kebelakang. Ini dimaksudkan agar kotoran dari anus tidak terbawa ke vagina.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*