Cara Mengetahui Bayi Telah Cukup ASI

Cara Mengetahui Bayi Telah Cukup ASI

Ibu menyusui sering bertanya-tanya apakah bayi mereka mendapatkan cukup ASI. Hal ini disebabkan karena payudara bukanlah botol susu sehingga tidak ada patokan pasti jumlah ASI yang tertampung di dalamnya. Kebiasaan masyarakat yang berpatok pada angka membuat ibu khawatir tentang jumlah ASI yang diperoleh bayi. Apakah bayiku sudah puas dan kenyang? Mengapa bayiku masih menghisap tangannya? Dan masih banyak keraguan yang dirasakan oleh sang Ibu.

Sejatinya kenaikan berat badan adalah indikasi terbaik untuk mengetahui bayi telah mendapat cukup ASI. Namun bila menggunakan patokan kenaikan berat badan bayi yang diberi susu formula tentu tidak sesuai untuk bayi ASI. Oleh karena itu, kami akan membahas cara untuk mengetahui apakah bayi telah mendapatkan cukup ASI.

1. Pahami cara menyusui sang bayi

Bayi yang mendapatkan jumlah ASI yang cukup akan menghisap payudara dengan cara yang sangat khas. Ketika bayi mendapatkan ASI (dia bukan mendapatkan susu karena membuat gerakan menghisap pada payudara), ada jeda yang terlihat pada dagunya setelah ia membuka mulut selebar-lebarnya dan sebelum menutup mulut. Satu gerakan menghisap adalah membuka mulut selebar-lebarnya, jeda, lalu menutupnya. Jika Anda ingin mencobanya, hisap telunjuk atau jari lainnya seolah-olah Anda sedang mengisap sedotan. Ketika Anda menghisap, dagu Anda turun dan tetap di bawah selama Anda menghisap. Ketika Anda berhenti menghisap dagu Anda kembali ke posisi semula. Jeda yang sama yang terlihat pada dagu bayi. Ini menunjukkan ASI memenuhi mulut bayi ketika ia mengisap pada payudara. Semakin panjang jeda semakin banyak ASI yang diperoleh. Setelah memahami jeda ini Anda akan menyadari bahwa anjuran membatasi bayi menyusu pada payudara tidaklah tepat. Sebagai contoh, ibu tidak perlu disarankan untuk menyusui bayi selama dua puluh menit pada masing-masing payudara. Dua puluh menit dari apa? Mengisap tanpa minum? Mengisap dan minum (jeda pada gerakan dagu)? Semua jenis jeda panjang? Bayi yang mengisap dengan jeda selama dua puluh menit mungkin tidak membutuhkan payudara yang lainnya. Bayi yang mengempeng (tidak minum) selama 20 jam akan lepas dari payudara dalam keadaan lapar.

Jika bayi lepas dari payudara setelah menyusu dengan jeda yang panjang maka mungkin ia sedang mengatakan saya mendapat cukup ASI. Jika bayi terus mengisap tanpa minum (dengan sedikit atau tanpa jeda) bayi akan tetap lapar. Coba selidiki, bagaimana perilaku dagu bayi saat ia tampak “kenyang”? Jika ASI mengalir dengan baik bayi bisa memilih untuk meminumnya atau istirahat sebentar (sebenarnya bayi tidak perlu terus-menerus mengisap dan kebanyakan bayi tidak melakukannya). Jika ASI tidak mengalir dengan baik maka bayi seakan ‘dipaksa’ mengisap saja tanpa minum. Jika ini terjadi, perah payudara untuk mengalirkan lebih banyak ASI.

2. Perhatikan warna dan komposisi tinja yang dikeluarkan

Beberapa hari pertama setelah kelahirannya bayi mengeluarkan mekonium berwarna hijau pekat hampir hitam, bahan yang telah terkumpul di dalam ususnya selama kehamilan. Kotoran (mekonium-red) akan keluar selama beberapa hari pertama, dan kemudian pada hari ketiga ketika bayi minum lebih banyak ASI buang air besar menjadi lebih cerah. Biasanya pada hari keempat buang air besar sudah berbentuk kotoran ASI yang wajar. Kotoran ASI yang wajar memiliki bentuk kental sampai encer, berwarna kuning pekat, dan biasanya sedikit berbau. Meski begitu, buang air besar juga mungkin bervariasi. BAB dapat berwarna hijau atau jingga, terdapat dadih atau lendir atau menyerupai krim cukur (penuh buih). Perbedaan warna tersebut tidak menunjukkan masalah. Selama bayi hanya mendapatkan ASI dia akan baik-baik saja, dan pada hari ketiga BABnyapun mulai terlihat lebih terang.

Tanpa melebih-lebihkan, memantau frekuensi dan jumlah buang air besar merupakan salah satu cara terbaik selain mengamati asupan bayi. Setelah tiga sampai empat hari pertama, buang air besar bayi seharusnya meningkat dan pada akhir pekan pertama dapat mengeluarkan dua sampai tiga kotoran berwarna kuning setiap hari. Selain itu, banyak bayi mengotori popoknya pada setiap penyusuan. Bayi yang masih mengeluarkan mekonium pada usia empat atau lima hari harus segera mendatangi klinik. Bayi yang buang air besar berwarna coklat mungkin tidak mendapat cukup ASI, tapi ini bukan gejala yang dapat dipercaya.

Beberapa bayi ASI setelah tiga sampai empat pekan pertama kehidupannya, mendadak dapat mengubah pola buang air besar mereka dari sering menjadi sekali dalam tiga hari atau bahkan kurang. Ada juga bayi yang tidak buang air besar selama 20 hari atau lebih. Selama bayi sehat dan bentuk tinja wajar yakni kental dan/atau lembek, berwarna kuning, berarti bayi tidak sembelit. Tidak ada perawatan yang diperlukan atau dibutuhkan, karena memang tidak ada perawatan yang diperlukan atau dibutuhkan untuk sesuatu yang wajar.

Bayi usia lima sampai 21 hari yang sama sekali tidak buang air besar dalam 24 jam sebaiknya diperiksakan ke klinik menyusui segera. Jika bayi yang sama mengompol berat sekurang-kurangnya enam popok, artinya ia sehat dan mendapat cukup ASI. Umumnya, dan hanya sebagai aturan umum, buang air besar yang sedikit serta jarang pada usia ini menunjukkan kurang asupan. Tentu saja ada beberapa pengecualian dan bisa jadi hal ini wajar, namun tetap lebih baik untuk diperiksakan.

3. Frekuensi buang air kecil

Jika pada usia 4 atau 5 hari bayi mengompol 6 kali dalam jangka waktu 24 jam (popok harus sangat basah bukan lembab atau agak basah), Anda dapat meyakini bahwa bayi mendapat banyak ASI. Sayangnya, popok “sekali pakai” model terbaru sering terasa kering meski penuh dengan kencing dan baru terasa berat ketika kencing sudah sangat penuh. Harap dimengerti bahwa indikasi asupan ASI ini tidak berlaku jika Anda memberikan tambahan air (yang sebenarnya tidak diperlukan bagi bayi ASI, dan jika diberikan dengan botol dapat mengganggu kegiatan menyusui). Setelah beberapa hari pertama BAK seharusnya hampir tidak berwarna, namun tidak perlu khawatir jika sesekali tampak sedikit lebih gelap.

BAK bayi usia dua atau tiga hari bisa saja berwarna merah muda atau merah. Tidak perlu panik dan bukan berarti bayi mengalami dehidrasi. Belum diketahui apa penyebabnya atau mengatakan bahwa ini tidak wajar. Ini dipercaya berhubungan dengan jumlah asupan bayi ASI pada usia tersebut yang lebih sedikit dibanding bayi yang diberi susu buatan. Meski begitu bayi yang diberi susu botol tidak dapat dijadikan acuan dalam menilai kegiatan menyusui. Di hari-hari pertama kehidupannya, hanya dengan pelekatan yang baik bayi dapat minum ASI. Pada masa ini pemberian air dengan botol, cangkir, atau menggunakan jari tidak dapat mengatasi masalah. Langkah ini hanya akan membantu bayi keluar dari rumah sakit dengan kencing tidak berwarna merah. Memperbaiki pelekatan dan memerah payudara justru akan dapat mengatasi masalah. Jika keduanya tidak membantu, pelajari cara aman pemberian cairan tambahan tanpa menggunakan botol. Membatasi waktu atau frekuensi menyusui juga diduga sebagai penyebab penurunan asupan ASI.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*