Awas, Jangan Lakukan Kesalahan ini Setelah Melahirkan (Part-2)

#3. Mendengarkan semua nasihat dan membebani diri

Usai melahirkan, Bunda baru kerap mendapat nasihat dari banyak orang, mulai dari orangtua, mertua, kakak perempuan, sepupu, kakak ipar, tante, teman-teman dan seterusnya. Kendati tak diminta, mereka akan tetap memberi berbagai nasihat. Merasa tak berpengalaman, semua nasihat itu lantas Bunda telan mentah-mentah sehingga menjadi beban.

Akibatnya :
Mendengarkan berbagai nasehat dan pendapat orang lain tanpa mencerna dan mengritisinya bisa mendatangkan kebingungan, apalagi jika kemudian hari muncul rasa tak mampu menjalankannya. Pada beberapa ibu, beban di hati itu dapat berkembang menjadi depresi. Lebih-lebih jika nasihat tersebut bertentangan dengan prinsip dan kesanggupan.

Yang seharusnya dilakukan :
Boleh mendengarkan nasihat orang lain, namun utamakan pendapat dan insting keibuan yang ada. Jika bunda mengikuti nasihat semua orang, artinya bunda menerima terlalu banyak aturan hidup yang bisa saja tak sesuai dengan prinsip sendiri. Yang terbaik adalah dengarkan nasehat, tapi cerna dan tapis mana yang sesuai dengan keyakinan dan intuisi dalam mengasuh dan merawat anak. Jika berkaitan dengan kesehatan dan kondisi medis anak, dokter adalah sumber terbaik mendapatkan nasehat.

#4. Terlalu Khawatir, paranoid dan gelisah

Sudah menjadi naluri alami, menjadi orangtua baru selalu membuat ayah dan bunda khawatir dan gelisah. Melihat bayi yang kecil dan rapuh serta banyaknya fakta di luar jika bayi dapat memiliki gangguan kesehatan serius, menjadi pembenaran bagi para orangtua baru untuk selalu khawatir berlebihan.

Akibatnya :
Penyebab terbanyak kasus PPD ternyata adalah kekhawatiran berlebihan yang dialami Bunda baru. Itu karena kekhawatiran dapat menggiring Bunda untuk merasa cemas, takut hingga panik yang berdampak pada gangguan tidur, gangguan makan-minum dan lainnya yang akhirnya membuat baby blues lebih buruk.

Yang seharusnya dilakukan :
Terimalah fakta bahwa tak semua penyakit dan musibah bisa dicegah oleh orangtua. Mengasuh anak seharusnya menjadi pengalaman positif bagi orangtua baru, bukannya mendatangkan kekhawatiran dan ketakutan. Jika orangtua bisa menerima kehadiran bayi dengan lebih santai, tenang, disertai rasa berserah diri kepada Tuhan Sang Pencipta mahklukNYA, bayi juga dapat berkembang dengan baik dan sehat.
Selain itu, bayi menangis tak selalu berarti sakit atau tak bahagia. “Bayi menangis juga bukan karena pengasuhan Anda salah. Jika bayi menangis lantas ketika Anda meresponnya ia berhenti menangis, artinya Anda tak perlu khawatir,” ujar Michelle Haley, M.D., dokter anak dari Children’s Mercy Hospitals & Clinics, AS.

#5. Cuek Pada Suami

Setelah memiliki bayi, Bunda sibuk merawat bayi dari pagi hingga malam hari sehingga begitu kelelahan. Akibanya Bunda tak sempat memerhatikan suami dan melakukan hal-hal yang dulu kerap Bunda lakukan untuknya seperti berdandan, minum teh berdua atau mengobrol. Selain itu, saat ini bayi adalah prioritas utama hidup Bunda sehingga –tanpa membicarakan hal ini dengan suami- Bunda merasa suami tidak perlu menuntut macam-macam dan musti menerima kenyataan ini,

Akibatnya :
Keadaan ini jika dibiarkan berlarut-larut dapat memicu masalah pernikahan dan kerenggangan hubungan suami isteri. Pada suatu titik, perasaan bersalah karena telah mengabaikan kebutuhan pasangan bisa muncul dan menimbulkan rasa inkompeten sebagai isteri. Dalam diri Bunda muncul rasa rendah diri. Jangan sampai ini terjadi!

Yang seharusnya dilakukan :
Jangan terlalu merasa bersalah dengan ketidakmampuan diri mengatasi semua. “Bukan hal yang aneh, jika pascamemiliki bayi, ibu mengalami sedikit masalah pernikahan sekaligus stres menjadi orangtua baru. Saat ini memang masa transisi dari pasangan tanpa anak menjadi orangtua baru,” ujar John Friel, PhD. Profesor Psikiatri Klinis di School of Medicine, University of Nevada, AS.

Kendati demikian, menurut John, tetaplah fokus pada pernikahan dan anak. Cobalah mencari pengasuh atau orang lain yang dapat membantu Bunda mengasuh bayi saat melakukan “our time” dengan suami. Seringlah berdiskusi dengan pasangan tentang bayi maupun perubahan hidup keluarga, sehingga suami merasa ini isu bersama yang harus dihadapi bersama pula. Jadikan komunikasi kebiasaan positif.

#6. Tak Punya ‘Me Time’

Kesibukan bunda dalam mengurus bayi kerap membuatnya menganggap kebutuhan pribadi tak lagi penting. Bahkan tak sempat memiliki ‘me time’.

Akibatnya :
‘Me Time’ sebetulnya sangat berperan mengembalikan kesejahteraan jiwa seorang ibu. Jika tak terpenuhi, Bunda baru akan lebih mudah mengalami stres terutama menghadapi tangisan bayi.

Yang seharusnya dilakukan :
“Mengupayakan me time kendati telah menjadi seorang ibu adalah sebuah keharusan. Anda juga perlu merawat kesehatan jiwa, karena ibu yang bahagia akan menjadi orangtua yang lebih sabar merawat anak,” ujar Elizabeth Silk, psikolog dari New York City, Amerika Serikat.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*